MULAWARMAN NEWS

Andi Harun Reses di Desa Budaya Pampang

M-NEWS.ID, SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kaltim Andi Harun, Minggu (04/11/2019), mengelar reses di Balai Kesenian Desa Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.

Dari hasil reses ini, terhimpun sejumlah keluhan yang disampaikan warga. Diantaranya, renovasi rumah lamin yang juga merupakan balai kesenian desa, listrik, kenaikan besaran iuran BPJS dan tidak adanya mobilisasi pembuangan sampah di Desa Pampang.

Seperti yang diungkapkan May, salah satu warga RT 02 Desa Budaya Pampang. Ia sangat menyoroti persoalan kenaikan BPJS bagi rakyat kecil.

Mewakili ibu-ibu yang hadir dalam acara itu, May meminta supaya biaya jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) dialihkan ke BPJS kelas 3 untuk digratiskan atau diringankan.

Ibu yang kesehariannya berjualan sayur tersebut uga mengeluhkan biaya sekolah yang masih dianggap memberatkan bagi anak yang tinggal di pinggiran untuk mengenyam pendidikan formal.

“Katanya sekolah gratis tapi kenapa orang kami lebih suka sekolahkan anak ke kota, karena di desa tidak baik, kami tidak puas sebagai orangtua dengan fasilitas dan pendidikan yang berbeda, ditambah lagi Ada biaya buku yang naik sampai sejuta. Katanya gratis tapi tetap aja bayar, tolong dibenahi lah pak supaya orang seperti kami juga merasakan itu,” keluhnya.

Sementara itu, Lurah Desa Budaya Pampang, Sofyandi, menyambut antusias kedatangan Andi Harun.

Menurutnya, desa budaya pampang menjadi figur gerbang masuk kota Samarinda, karena berdekatan dengan Bandara APT Pranoto. Ia juga sebut kelurahan yang dipimpinnya saat ini memiliki destinasi wisata yang bisa dimaksimalkan untuk mendapat dampak positif dari perkembangan kota Samarinda.

Sofyandi menyampaikan bahwa destinasi wisata budaya pampang bisa menjadi tempat yang representatif, kondisinya yang masih tradisional perlu mendapat perhatian untuk menarik mata internasional.

Dirinya juga berharap adanya program Pemprov yang dapat meningkatkan SDM destinasi yang unggul.

“Lamin ini harus diperjuangkan ke Kementerian. Tidak hanya kami yang di daerah, Pemkot juga pasti malu karena gaungnya besar tapi ketika didatangi wisatawan mancanegara, yang didapat hanya mengelus dada. Begitu juga destinasi wisata ini harus didukung SDM yang memadai, pembangunan tidak hanya dilakukan disektor infrastruktur tapi SMD juga perlu. Selain itu, usia lamin ini sudah saatnya direnovasi, kapasitasnya juga harus ditambah. Sebelumnya juga kami pernah mengajukan perbaikan jembatan ke musrembang, namun gagal terus dikarenakan pemerintah anggap APBD yang perlu dikeluarkan cukup besar, tidak bisa mengcover itu. Jalan menuju lokasi perkebunan warga juga perlu mendapat perhatian, dibeberapa titik desa masih gelap gulita,” terangnya.

Terkait beberapa keluhan yang disampaikan, Andi Harun memberikan tanggapannya untuk membantu memperjuangkan aspirasi yang menjadi keresahan warga desa budaya pampang.

“Saya pikir desa ini harus menjadi prioritas untuk diperjuangkan. Lambat atau cepat, siklus pampang ada di sekitar bandara dan berpapasan langsung, begitu pula adat dayak harus tetap lestari ditengah kemajuan kota,” ujarnya. (dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *