MULAWARMAN NEWS

Covid-19 dan Religiusitas ala Sufistik

Oleh : Pahriansyah

Dilansir dari Kompas.com penambahan kasus positif Covid-19 terus terjadi di Indonesia. Berdasarkan data pemerintah, hingga minggu (19/4/2020) pukul 12.00 WIB. Update pasien Vocid-19 bertambah 327 kasus baru. Total menjadi 6.575 orang. Kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Graha BNPB pada minggu sore. Tidak menutup kemungkinan jumlah angka tersebut akan semakin bertambah kedepannya.

Saat kita membaca berita baik dimedia cetak ataupun dimedia elektronik, suguhan utama yang kita jumpai ialah berita tentang Covid-19. Begitu pula saat menonton televisi, hampir disemua stasiun TV memberitakan hal sama. Percakapan dimedsos pun tak luput dari pembahasan terkait Virus Corana. Nampaknya Covid-19 telah menjadi sentral utama dalam mengisi alam bawah sadar kita.

Dilansir dari Kompas.com penambahan kasus positif Covid-19 terus terjadi di Indonesia. Berdasarkan data pemerintah, hingga minggu (19/4/2020) pukul 12.00 WIB. Update pasien Vocid-19 bertambah 327 kasus baru. Total menjadi 6.575 orang. Kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Graha BNPB pada minggu sore. Tidak menutup kemungkinan jumlah angka tersebut akan semakin bertambah kedepannya.
Saat kita membaca berita baik dimedia cetak ataupun dimedia elektronik, suguhan utama yang kita jumpai ialah berita tentang Covid-19. Begitu pula saat menonton televisi, hampir disemua stasiun TV memberitakan hal sama. Percakapan dimedsos pun tak luput dari pembahasan terkait Virus Corana. Nampaknya Covid-19 telah menjadi sentral utama dalam mengisi alam bawah sadar kita.

Menghidupkan Ruhani

Disini kita turut merasakan kesedihan, kepiluan dan derita atas apa yang menimpa para korban. Terlebih dalam kasus ini, tak mengenal status sosial. Dimana setiap orang berpontensi untuk bisa tertular dan menularkan pada yang lain. Ini pula yang menimbulkan keresahan, kegelisahan dan kegundahan terhadap masing-masing orang. Dan memunculkan “phobia” untuk berinteraksi sosial.

Pola kehidupan kita pun mulai beradabtasi melakukan penyesuaikan terhadap perubahan semenjak adanya pembatasan. Meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan ditempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial budaya, transportasi dan sebagainya. Tentunya pembatasan ini bukanlah sebagai hukuman atau kerangkeng bagi diri kita. Akan tetapi merupakan upaya untuk mengendalikan dan melepaskan diri kita dari keterbelengguan ego yang selama ini mungkin saja begitu dominan menyelimuti diri tanpa kita sadari.

Boleh jadi selama ini, kita tidak merasakan bahwa ruhani kita terabaikan dan terjerembab, berada dalam keterpurukan. Bahkan suara jeritanya pun tak terdengar oleh kita. Karena kita lebih tertarik mencari hal-hal yang bersifat ragawi. Daya tarik duniawi semakin menjauhkan diri kita dari memenuhi kebutuhan ruhani.

Dalam kondisi seperti ini, betapa sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai ruhani tidak pernah hilang sama sekali. William James, seorang psikolog terkemuka abad-20. Dalam bukunya yang terkenal, Varietes of Religious Experience menyatakan bahwa, sebagai makhluk sosial , manusia tidak akan menemukan kepuasan kecuali jika ia bersahabat dengan Kawan Yang Agung (The Great Socius). Tentu kawan yang dimaksudkan itu ialah Tuhan. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa, selama manusia itu belum berkawan dengan Kawan Yang Agung itu, maka selama itu pula ia akan merasakan adanya kekosongan dalam hidupnya. Ia hidup sepi dalam keramaian. Dari apa yang telah dinyatakan oleh William James, dapatlah kita pahami bahwa ruhani akan senantiasa terisi dan hidup manakala manusia bercengkrama dengan Tuhannya. Melalui serangkaian ritual diantaranya ialah dengan dzikir dan doa.

Untuk bangkit dari keterpurukan dan lebih peduli akan ruhani, kita membutuhkan suatu kondisi. Yaitu kesendirian, keberjarakan dan keheningan. Dengan kata lain mengasingkan diri (uzlah) dari hiruk-pikuk keramaian dan menjalani kesunyian dimana Kanjeng Nabi, filsuf dan sufi telah melakukannya. Jalan kesunyian, mengajak kita Kembali ke hakikat eksistensi kita yang dahulu. Saat kita masih menyatu dengan alam Ilahi. Dengan kesendirian dan berdiam diri, sembari bertafakkur atau berkontemplasi. Maka akan membentuk kesadaran spiritualistik pada aspek batin kita. Sehingga kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dan betapa dekatnya Sang Ilahi dengan kita.

Dalam konteks inilah dikatakan, Allah bersemayam di dalam hati manusia. Inilah pula tujuan dari perjalanan ruhani: mencapai keadaan dimana kita sudah kebali ke dalam hati kita dan menemukan kembali Allah sebagai Sumber wujud kita.

Terapi Sufistik

Pandemi Virus Corona yang terjadi secara global merupakan sinyalemen betapa rapuh dan tidak berdayanya kita sebagai manusia dalam menghadapi Virus yang berukuran sangat kecil tersebut. Segala cara pun coba dilakukan, sebagai bentuk ikhtiar guna menghambat dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kendatipun dunia sains sudah lebih maju, begitu pula teknologi. Namun tetap saja, kita membutuhkan Tuhan. Bagi para sufi Tuhan seakan mendesain manusia sedemikian rupa sehingga ia tetap memerlukan Tuhan. Rasa ketergantungan kepada Tuhan merupakan keseimbangan dan sebagai pengontrol bagi jiwa.

Terapi Sufistik disini ialah bercorak spiritual. Dimana penekananya pada kesehatan jiwa. Jika prosedur medis pada sisi lahiriah. Maka terapi sufistik bertumpu pada sisi batiniah. Jadi menyeimbangkan imunitas antara lahir dan batin. Dari pengalaman keagamaan atau mistik dalam melaksanakan peribadatan kepada Tuhan. Setidaknya ada enam hal yang terkait dengan nilai-nilai spiritual yang bisa kita amalkan ala terapi sufistik. Diantaranya Keikhlasan dalam beribadah, kerinduan dan cinta Ilahi, mencampakkan dunia (zuhud), kepuasaan Hati (qana’ah), Mengingat Allah (dzikir) dan Kesatuan Mistik (ittihad). Kesatuan Misitik menurut salah seorang sufi besar adalah Ketika sang hamba tidak menyaksikan yang lain kecuali Penciptanya, dan Ketika tiada pemikiran apa pun yang terjadi pada dirinya kecuali pemikiran tentang penciptanya. Terapi sufistik tersebut menuntun kita semakin intens menjalin komukiasi dengan Ilahi. Konsekuensinya seseorang akan memperoleh energi spiritual yang menciptakan getaran-getaran psikologis pada seluruh aspek jiwa raga.

Muhammad Nur Jabir menuturkan, Tajalli atau kehadiran Ilahi yang Maha Pengasih, dalam setiap realitas eksistensi akan menciptakan keindahan dan memberikan harapan. Walau ada derita saat bersama denganNya namun tetap memberikan kebahagiaan. Dan kebahagian atas namaNya adalah ruhaniah. Tanpa diriNya, hidup tak bernilai dan juga tak ada rasa. Melalui diriNya segalanya menjadi indah.

Cinta pada Ilahi merupakan hal paling mendasar terkait dengan harapan. Harapan tersebut tentunya disertai dengan sikap sabar. Sabar terhadap apa pun yang terjadi atas diri kita. Termasuk yang saat ini sedang dialami oleh bangsa kita. Karena pengaruh sabar juga sangat penting untuk sampai kepada keluasan jiwa. Diri kita meski selalu mengingat sabar. Sabar adalah kunci terbukanya pintu rahmat. Tanpa keberadaan sabar, manusia tak akan bisa memperluas hakikat diri dan jiwanya. Kesabaran akan membuka banyak hal dalam diri manusia.

Diakhir tulisan singkat ini, penulis ingin mengutif ungkapan Maulana Jalaluddin Rumi. Dalam syair sufistiknya, Maulana Rumi berkata:

Siapa saja mencari air kehidupan di dunia ini, Kematian lebih cepat menuju dirinya daripada ke orang lain. Namun jik cahaya Ilahi menjadi tabib manusia, Tak akan menimpa kekurangan, aib, dan menua.

Wallahu A’lam.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *