MULAWARMAN NEWS

Dokter Cantik, Putri Sangkulirang Berprestasi

dr Desi Megasari

M-NEWS.ID, SAMARINDA – Dara cantik ini bernama lengkap dr Desi Megasari, Perempuan Kelahiran Desa Perupuk Besar, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur. Mahasiswi yang baru saja lulus menempuh pendidikan dari Fakultas Kedokteran di Universitas Mulawarman (Unmul) tahun 2018.

Desi biasa disapa, bercerita banyak soal perjalanan pendidikannya hingga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Kedokteran Unmul, Fakultas yang bergengsi dan di idam-idamkan banyak orang.

Dara kelahiran Desa Perupuk Besar pada 7 Desember 1993 silam, merupakan anak dari Antung Taufikurahman seorang Guru Sekolah Dasar dan Ibunya Nur Hayati (alm) yang sehari-hari sebagai Ibu Rumah Tangga.
Meskipun berada di desa terpencil yang sangat minim infrastruktur sehingga belajar pun hanya menggunakan lampu tembok saja karena belum ada listrik kala itu, semenjak kecil orang tua Desi mengingatkan pada setiap anak-anaknya akan pentingnya memperoleh pendidikan yang baik untuk mencapai cita-cita yang di inginkan.

Karena tekad dan semangat dari orang tua itulah menjadi dorongan anak ketiga dari empat bersaudara tersebut untuk kuliah di Samarinda, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Jauh meninggalkan kampung halamannya di Desa Perupuk Besar, Sangkulirang, Kutim.

Awalnya, perempuan dengan senyum yang menawan ini berkeinginan menjadi guru. Guna mengikuti jejak sang ayah yang mengabdi sebagai tenaga pendidik di Desa Perupuk Besar. Dimana, saat itu Desi berpikir guru adalah profesi yang sangat mulia untuk sebuah proses memanusiakan manusia dengan mendidik banyak orang.
Kendati demikian, perjalanan kehidupannya mengisahkan cerita yang lain, niatan awal menjadi guru kemudian berubah menjadi dokter. Pasalnya, para guru-guru di SMA-nya mendorong gadis berzodiak Sagitarius itu untuk melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran. Dikarenakan, kurangnya tenaga medis khususnya dokter disana.

Walaupun ada rasa bimbang dalam hatinya, karena ibunya sedang sakit dan ayahnya fokus membiayai pengobatan sang ibu. Apalagi, dia tahu untuk kuliah di Kedokteran tidaklah murah. Namun, setelah berkonsultasi dengan kedua orang tuanya, Desi semakin mantap untuk menorehkan jejak sejarahnya di Fakultas Kedokteran Unmul berbekal undangan hasil seleksi di jenjang Kabupaten Kutim.

“Saya mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman pada 2011 lalu, melalui jalur undangan. Satu-satunya perwakilan dari Kutai Timur. Pada waktu itu saya diminta untuk memilih jurusan, awalnya saya akan memilih FKIP, lantas guru guru saya dan salah satu dokter disana mendorong agar saya memilih kedokteran. Dulu waktu kecil, memang sempat terbersit pengen menjadi dokter, yah tapi hanya selintas saja. Selebihnya saya ingin jadi guru seperti ayah,” ungkapnya.

Setelah berkonsultasi lagi dengan kedua orang tua dan saudara-saudara, Desi memilih Kedokteran sebagai pilihan pertama dan Keguruan sebagai pilihan kedua dan ketiga. Dan memang, pilihannya tepat setelah mengikuti serangkaian Tes akademik. Desi dinyatakan diterima di Kampus yang yang banyak melahirkan tokoh-tokoh di Kalimantan Timur.

Walaupun di terima di kedokteran unmul pada 2011 lalu, ada rasa bahagia sekaligus duka yang menyelimuti perasaannya, karena pada tahun yang sama saat sedang mempersiapkan diri untuk melanjukan pendidikan di Universitas, Desi kehilangan orang yang sangat di cintainya. Ibunya Nur Hayati kembali kehadirat illahi karena sakit.

“Sebagai anak perempuan tentu sangat terpukul dengan kejadian itu, karena ibu adalah teman bercerita dan berkeluh kesah, walaupun masih ada ayah beda rasanya, apalagi saya harus kesamarinda untuk melanjutkan pendidikan, itu masa masa yang berat,” kenangnya.

Sekolah dr Desi Megasari sewaktu kecil

Beruntunglah Desi, ayahnya yang sangat mendukung anak-anaknya untuk bersekolah, termasuk kepada kakak dan adiknya yaitu Rima Rahmanur, Khairija Rahman serta adiknya Yulia Febrianti. Dukungan itu pun dibarengi usaha ayahnya bekerja keras untuk membiayai kuliahnya, walaupun sang ayah hanya seorang guru SD namun tak membuat patah akal.

Menurutnya, di Fakultas Kedokteran kuliah dijalani secara ‘Full Time’, sulit mencari celah atau waktu untuk sambil bekerja. Praktis, selama 5 tahun masa kuliah dan 2 tahun masa pendidikan profesi, Desi sangat mengandalkan beasiswa dan support dari ayahnya di kampung.

Selama berkuliah Desi memang fokus mengikuti ritme perkuliahan secara total, dosen-dosen selain mengajar menurutnya sangat memotivasi begitupun konsulen konsulen (Dokter Spesialis) di Rumah Sakit yang juga sangat memotivasi sehingga dia bisa seperti sekarang, melewati masa kuliah selama lima tahun, kemudian 2 tahun pendidikan profesi di Rumah Sakit AW Syaharani.
Setelah lulus sebagai dokter umum, dia untuk boleh praktek harus mengikuti internship magang satu tahun di Rumah Sakit bertipe B atau tipe C sesuai penempatannya nanti.

Lebih jauh, Desi ingin mengembangkan karir kedokterannya menjadi spesialis Kecantikan atau Dermatovenereology (Sp Dv). Sehingga dirinya membutuhkan dukungan berbagai pihak, karena jurusannya belum dibuka di Kaltim.

Diakhir ceritanya, Desi memberikan semangat untuk teman-teman agar menempatkan pendidikan sebagai proses yang penting dalam hidup. Selalu semangat, fokus aja, berusaha dan tidak berkecil hati walaupun dari kampung atau daerah terpencil, seperti dirinya yang dari Desa Perupuk Besar Sangkulirang.

“Semuanya bisa di capai selama ada keinginan dan mau berusaha. Succes is Happiness,” pesan Desi, lulusan SDN 008 Perupuk Besar, SMPN 1 Sangkulirang, SMAN 1 Sangkulirang dan penyuka warna putih ini. (*)

Penulis: Erlyando Saputra, Ssos
Editor: Surya Adhie Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *