MULAWARMAN NEWS

ISTIQAMAH SETELAH KEPERGIAN RAMADHAN

Oleh: Ismail, M.Pd.I (Guru Fikih MAN IC Paser)

Tamu agung nan mulia yang bernama Ramadhan itu telah pergi.
Ia telah mengajarkan kepada kita bahwa melawan keinginan berbuat dosa dan maksiat mempunyai kelezatan tersendiri dalam hati.
Ramadhan meyakinkan kita bahwa memenangkan ketaatan kepada Allah saat harus berhadapan dengan syahwat dan nafsu, menyusupkan kegembiraan dalam hati yang amat menenangkan dan dalam batin yang sangat menentramkan.


Ramadhan mendidik kita bahwa dengan niat yang ikhlas mengharapkan ridha dan cinta Allah semata serta keimanan yang kuat, amat memudahkan kita menjalani ibadah dan amal-amal salih di masa sulit seperti saat ini.
Itulah hasil “diklat” yang kita dapatkan selama bulan Ramadhan.

Jangan pernah tinggalkan kenikmatan dan kelezatan beribadah dan beramal salih itu setelah kita usai menjalani bulan Ramadhan.
Jangan biarkan musuh yang nyata, meski ia tak nampak oleh mata, yakni setan, merenggut kembali kenikmatan dan kebahagiaan lahir batin yang sudah kita rasakan melalui ibadah dan amal kebaikan di bulan Ramadhan.

Setan dan sekutu-sekutunya pasti berusaha dengan berbagai macam cara untuk menggoda, merayu, menjerumuskan, dan menyesatkan kita.
Setan dan balatentaranya pasti berupaya dan “berjihad” menanamkan kembali rasa malas beribadah, malas membaca Alquran, rasa malas bangun untuk salat malam(tahajjud), rasa berat untuk berinfak dan bersedekah, rasa enggan untuk berkorban, dan sebagainya.
Mari, pelihara dan rawat sebaik-baiknya pengalaman hati, jiwa, dan raga sebagai hasil “training” Ramadhan yang begitu berharga untuk menjadi bekal hari ini dan di sebelas bulan berikutnya.

Setelah Ramadhan pergi, tetaplah patuh dan taat kepada Allah sepanjang hayat masih di kandung badan.
Jadilah hamba-hamba Allah yang selalu takut kepadaNya kapan dan di mana saja, baik dalam situasi kesendirian maupun keramaian, baik dalam suasana senang maupun susah, saat lapang maupun sempit, saat kaya maupun miskin, ketika di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, serta hadirkan selalu perasaan diawasi dan dilihat Allah SWT.

Setelah Ramadhan pergi, jangan pernah mencoba kembali melakukan dosa dan maksiat, karena sesungguhnya dosa dan maksiat itu mempunyai pengaruh yang membahayakan hidup kita sendiri.
Dosa dan maksiat itu laksana racun di dalam tubuh dan tiada keburukan di dunia dan di akhirat kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat yang dilakukan.

Dahulu Adam dan Hawa telah dikeluarkan dari Surga.
Dahulu iblis diusir dari kerajaan langit.
Dahulu kaum Nabi Nuh ditenggelamkan.
Dahulu kaum Ad telah dihancurkan dengan terpaan angin puting beliung.
Dahulu telah dimusnahkan kaum Tsamud dan kaum Nabi Syuaib.
Dahulu Firaun dan pengikut setianya juga ditenggelamkan di laut.
Semuanya itu karena dosa, maksiat, dan kedurhakaan yang mereka lakukan.

Setelah Ramadhan pergi, kita berharap sembari berdoa kepada Allah, semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang cinta kepada Allah dan RasulNya, cinta kepada kebaikan, keindahan, kebenaran, dan menghiasinya dengan Iman dan Islam, lalu menjadikan hati kita benci kepada keburukan, kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

Akhirul kalam, mari renungi Firman Allah SWT berikut. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah, maka akan diturunkan kepadanya malaikat-malaikat seraya malaikat itu berkata, “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, dan bergembiralah kamu dengan(memperoleh) Surga yang telah Allah janjikan kepadamu.” (Q.S. Fushshilat/41:30).

Semoga kita terus-menerus bisa istiqamah dalam keimanan, ibadah, dan amal salih setelah Ramadhan pergi meninggalkan kita, sejak hari ini sampai sebelas bulan akan datang bahkan hingga akhir kehidupan kita. Aamiin…Wallahu a’lam.

Tapis, 01 Syawwal 1441 H/24 Mei 2020 M.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *