MULAWARMAN NEWS

Kasihan, Puluhan Tahun Warga Mengkudu Nikmati Jalan Rusak

Kondisi jalan penghubung Kecamatan Batu Engau – Kecamatan Tj. Harapan di Desa Mengkudu

M-News.id – Kondisi jalan penghubung Kecamatan Batu Engau menuju Kecamatan Tanjung Harapan mengalami kerusakan disejumlah titik, salah satunya berada di Desa Mengkudu, Kecamatan Batu Engau. Bahkan, jika musim penghujan datang badan jalan berubah menjadi jalan berlumpur.

Jalan tersebut, selain sebagai akses utama menuju Desa Mengkudu, juga menyambungkan empat desa lain seperti, Desa Lomo, Desa Riwang, Desa Segendang dan Desa Pengguren.

Salah seorang warga bernama Hairi mengungkapkan bahwa jalan yang menjadi urat nadi warga ini bisa segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Sudah puluhan tahun kami merasakan jalan rusak ini, tapi sampai saat ini saya belum pernah merasakan mulusnya jalan menuju desa saya sendiri,” ungkapnya kepada M-News.id, Selasa (13/6/2017).

Tidak heran, lanjutnya, bila di sepanjang Desa Mengkudu ini kita kerap menemukan warga yang mendorong motor, atau mencungkil tanah di roda kendaraan. Menurutnya ini menjadi semacam rutinitas masyarakat dikala musim penghujan.

“Kalau habis hujan berlumpur, jalan licin, kalau kemarau dipaksa menghirup debu,” tambahnya.

Sementara itu, terpisah, Kepala Desa Mengkudu Andis Fauzi mengatakan bahwa jalan poros yang merupakan tanggung jawab provinsi tidak pernah tersentuh perhatian selama puluhan tahun.

“Sebenarnya, kami tidak perlu jalan beraspal, cukup bisa dilewati dengan layak, dan itu sudah bisa buat kami senang,” katanya.

Ditambahkan Andis, walaupun jarak dari Desa Mengkudu menuju Ibukota Kecamatan Batu Engau hanya sepanjang 12 Kilometer, walau demikian, masyarakat harus menempuhnya dalam waktu satu jam lebih.

“Jarak dari Desa Mengkudu ke kecamatan relatif cukup dekat, tetapi kami harus menempuh waktu lebih lama, itupun kalau kendaraan kami tidak mengalami kerusakan ,” tuturnya.

Dijelaskan Andis, bahwa kondisi jalan seperti ini menjadi pengambat meningkatan perekonomian masyarakat, karena jalan tersebut merupakan akses transportasi hasil panen masyarakat.

“Yang seharusnya hasil panen bisa di bawa keluar untuk dijual, tapi kalau musim penghujan terpaksa kami menunda penjualan, kalau begini bagaimana masyarakat bisa sejahtera?,” ungkapnya.

Andis pun berharap kepada pemerintah, agar pembangunan lebih merata terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah perbatasan Kalimantan Timur (Kaltim)-Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Bila jalan poros utama yang merupakan tanggung jawab provinsi saja belum tersentuh perbaikan, bagaimana desa bisa melakukan program percepatan pembangunan, semoga Pemprov bisa memperhatikan itu,” tambah Kades Andis Fauzi. (Dcmu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *