MULAWARMAN NEWS

Lebaran di Masa Pandemi Corona

Oleh : Pahriansyah

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita tahu bahwa bangsa ini dihadapkan dengan satu kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Yaitu pandemi virus corona. Bagi umat Islam, bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti dan dirindukan kehadiranya. Karena dibulan suci dan mulia ini, segala amal ibadah dilipat gandakan berdasarkan petunjuk dari nas-nas yang menerangkannya. Ini pula yang menjadi motivasi seluruh umat Islam dibelahan dunia untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan serangkain ibadah baik bersifat vertikal (ritual kepada Tuhan) maupun horizontal (hubungan sosial pada sesama).

Tentu tidak mudah bagi umat Islam, melaksakan ibadah dalam masa pandemi seperti saat ini. Terutama Ketika hendak melaksanakan salat berjamaah baik di mushola maupun di masjid seperti salat fardhu, jumatan dan tarawih. Setelah adanya ajuran untuk beribadah di rumah saja. Kendatipun aturan ini telah digulirkan, ternyata masih saja ada disejumlah tempat ibadah yang masih bersikukuh untuk melaksanakan salat berjamaah. Dengan dalih dan argumentasi yang telah diyakini.

Memang tidak ada secara ekplisit pelarangan untuk melaksanakan ibadah. Yang ada adalah menekan dan mencegah penyebaran virus corona. Seperti menjaga jarak dan menjauhi tempat keramaian. Dimana berkumpulnya banyak orang yang populer disebut sosial distancing atau physical distancing. Tempat ibadah disinyalir berpotensi untuk terjadinya penyebaran virus corona karena berkumpulnya jamaah. Upaya Pemerintah dan peran serta MUI melalui fatwanya, selain bertujuan untuk menekan dan mencegah penyebaran Covid yang begitu massif. Juga sebagai wujud perhatian terhadap kemaslahatan bersama.

Tradisi Mudik

Tradisi sendiri menurut Piotr Sztompka, adalah keseluruhan benda material dan ide yang bersumber dari masa lalu, tetapi benar-benar masih terdapat kini, belum dihancurkan, dirusak maupun dilupakan. Dari sini, dapatlah dipahami bahwa suatu tradisi telah mengakar kuat dalam kultur masyarakat. Seperti halnya tradisi mudik. Bulan Ramadhan akan segera berlalu. Dimana dipenghujung ramadhan ada satu kebiasaan yang telah mentradisi dimasyarakat yang dikenal dengan istilah mudik. Sebelum adanya pandemi Covid, tradisi mudik sudah berlangsung cukup lama dalam kehidupan masyarakat.

Momen mudik, dilakukan terutama oleh masyarakat yang bekerja atau memiliki mata pencaharian di luar daerah yang jauh dari kampung halaman. Ini dilakukan untuk dapat berkumpul dan bersilaturahmi setelah relatif lama tak berjumpa dan bersua bersama keluarga, kerabat dekat, dan tetangga yang berada dilingkungan sekitar tempat tinggal.

Istilah mudik, sempat menjadi perbincangan hangat ditengah masyarakat. Selain regulasi yang begitu cepat berubah, ditambah lagi perdebatan antara perbedaan pengertian mudik dan pulang kampung yang dirasa memiliki kesamaan makna. Sehingga masing-masing orang angkat bicara dan menyoal terkait hal tersebut. Namun disisi lain, tradisi mudik tak bisa dihentikan begitu saja. Walaupun sejumlah aturan telah diberlakukan dibeberapa daerah. Tetap saja tak merubah niatan atau cara pandang masyarakat untuk dapat pulang dan tiba di kampung halaman.

Bahkan sampai saat ini, di media elektronik dan media cetak tak luput dari pemberitaan tentang lonjakan pemudik. Demi bisa sampai ke kampung halaman, pemudik pun menempuh berbagai macam cara. Meskipun harus berhadapan dengan seperangkat peraturan yang memuat sanksi apabila tak mematuhinya. Terbukti dengan adanya pengetatan dan penyisiran yang dilakukan oleh petugas di lapangan. Banyak dari pemudik yang kedapatan, karena tak mengindahkan pelarang tersebut. Tak jarang dari mereka diarahkan untuk putar kembali.

Rentannya terinfeksi Covid ditempat keramaian, ternyata tak mebuat takut dan merubah keinginan para pemudik. Seakan menjaga keselamatan diri tidaklah lebih penting dari sekedar urusan mudik. Bahaya yang begitu nyata di depan mata tak lagi dapat membendung derap langkah.

Memang tidaklah mudah bagi pemerintah untuk menerapkan peraturan terkait pelarangan mudik. Apalagi hal tersebut, telah membudaya sejak lama dan dipraktikan secara terus-menerus oleh masyarakat. Jadi seperti apapun bentuk peraturan yang sampai kepada publik, untuk mencegah penyebaran virus corona. Tetap saja ada yang nekat melakukannya. Walaupun tak semua. Karena diantaranya masih ada yang patuh terhadap aturan tersebut. Selain itu, juga menjaga keselamatan diri dan keluarga menjadi pertimbangan utama untuk tidak mudik.

Dalam terori sosial, hal ini disebut oleh Emile Durkheim sebagai realitas suei generis, dalam artian masyarakat memiliki eksistensinya sendiri. Menurutnya Ketika ingin melihat suatu kebudayaan, maka dapat dilihat pula institusi dan norma dalam kebudayaan tersebut

Merayakan Idul Fitri

Tidak hanya puasa, akan tetapi lebaran tahun ini pun, umat Islam akan merayakannya di masa pandemi Covid. Setelah seluruh aktifitas ibadah dipusatkan di rumah. Termasuk pelaksaan salat Id pun demikian. Suatu situasi yang sangat dilematis. Berkumpul bersama keluarga saat Lebaran merupakan hal yang sangat membahagiakan dan amat berarti bagi setiap anggota keluarga. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti. Bahwasanya mengapa sebagian orang, meski dalam situasi pandemi yang sangat membahayakan. Tetap saja bersikukuh untuk dapat mudik ke kampung halaman. Tentu tidak lain, diantaranya ialah karena ingin merayakan idul fitri bersama-sama keluarga.

Berada bersama keluarga dan orang terdekat saat merayakan lebaran adalah dambaan setiap orang. Apalagi yang notabenenya jauh dari keluarga dikarenakan berbagai sebab. Idul fitri menjadi sangat bermakna. Karena dihari itu, setiap orang saling mengucapkan permohonan maaf dengan segenap jiwa dan kerendahan hati. Untuk bisa saling memaafkan. Memaafkan tidak semata karena salah. Akan tetapi lebih pada perwujudan akhlak.

Sebagaimana lazimnya, seperti saling mengunjungi (silaturrahmi) dan berjabat tangan. Terhadap sanak-famili, handai tolan, dan tetangga pada saat lebaran. Sangatlah tidak mudah untuk dihindari. Sementara pada saat yang sama semuanya harus mengikuti protokol kesehatan dalam pencegahan Covid. Tanpa keasadaran masing-masing pihak, maka protokol Kesehatan ini menjadi tak berarti.

Covid-19 turut menyertai kita semua dalam segala jenis aktivitas karena keberadaannya. Termasuk dihari yang fitri ini. Kita semua harus menjalani hari yang penuh suka cita tersebut bersama corona. Meskipun demikian, keberadaan virus corona tak meyebabkan putusnya jalinan silaturrahmi.

Namun sebelum itu, kita perlu merenungkan kembali tentang bagaimana peningkatan kualitas ibadah kita di bulan ramadhan tahun ini. Selama berada di rumah. Apakah ibadah puasa yang kita jalani selama satu bulan berhasil mendisiplinkan diri kita dan membetuk perilaku yang positif. Dari perenungan ini, mengantarkan diri kita pada kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual ini pula, akan mengintenskan hubungan kita dengan Tuhan dan kepekaan kita terhadap realitas sosial untuk lebih peduli pada sesama. Sumoga bulan puasa kali ini, membawa berkah bagi kita semua dan diterimanya segala amal Ibadah.

Mari bersama merayakan Idul fitri dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Saling mengingatkan dan menjaga untuk keselamatan bersama. Semoga kita semua kembali dipertemukan dengan bulan ramadhan dan lebaran yang akan datang. Sehingga yang tidak bisa mudik tahun ini, bisa berkumpul kembali bersama keluarga untuk merayakan lebaran ditahun depan.

Diakhir, penulis ingin menutup tulisan singkat ini dengan mengutif ungkapan penyair sufi Maulana Jalaluddin Rumi. Menurut Maulana Rumi, Idul Fitri adalah hari raya para pecinta dimana symbol keismailan pasrah disembelih oleh simbol keibrahimian sehingga memperoleh kemenangan fitrah dan kebahagaian yang agung.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *