MULAWARMAN NEWS

Redam Gejolak, Bupati PPU Gelar Pertemuan di Long Kali

M-NEWS.ID, PENAJAM – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud melakukan pertemuan dengan keluarga korban, tokoh adat Paser dan Dayak serta tokoh masyarakat setempat, Kamis (17/10/2019).

Pertemuan tersebut di gelar pasca unjukrasa yang berujung pembakaran di sekitar pelabuhan Kabupaten Penajam Paser Utara, Rabu (16/10/2019).

Pertemuan yang digelar di Rumah Adat Baru Jalan Penajam–Kuaro, Kecamatan Longkali, Kabupaten Paser itu dihadiri Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional Yakobus Kumis, Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur Edi Gunawan, Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur, Ketua Lembaga Adat Paser Penajam Paser Utara Musa, Ketua Dewan Adat Dayak Balikpapan Abriantinus, sesepuh adat Paser Sudirman, tokoh adat Paser Midin, kuasa hukum adat Dayak Padman Hutapea.

Abdul Gafur Mas’ud berharap kondusivitas di wilayah Penajam Paser Utara dapat selalu terjaga pasca di tetapkan sebagai Ibu Kota Negara (IKN).

“Kalau memang masalah ini ditunggangi untuk menolak kehadiran ibu kota negara di PPU, tetapi jangan sampai merugikan masyarakat kita sendiri,” ujar Gafur.

Dia menambahkan, Penajam Paser Utara dan Paser merupakan serumpun, sehingga tidak ada lagi perbedaan maupun perselisihan yang dapat merugikan banyak orang.

“Saya sebagai bupati akan tetap mengikuti dan mengawal perkembangan kasus ini agar dapat berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.

Sesepuh adat Dayak Paser Sudirman dalam musyawarah tersebut mengucapkan terima kasih kepada bupati yang menyempatkan hadir di tengah-tengah mereka untuk mendengarkan keluh kesah masyarakat.

“Semoga dengan pertemuan kita di siang hari ini dapat meredam semua amarah masyarakat khususnya masyarakat adat lokal di wilayah Kabupaten Paser. Kita semua juga dapat saling menjaga dan jangan sampai masalah ini nantinya justru di tunggangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Perwakilan keluarga korban, Sapri, berharap polisi menghukum setimpal pada tersangka yang telah menghilangkan nyawa keluarganya.

“Kami masyarakat Paser tidak terima dengan hilangnya nyawa keluarga kami, kami memiliki hukum adat sehingga harus mengikuti hukum adat kami,” ucapnya.

Dari pertemuan tersebut disepakati dua poin kesepakatan damai. Pertama, Mengawal proses hukum sampai tuntas menurut Undang-Undang yang berlaku, Kedua dikenakannya Denda adat dan ritual bersih kampung.

Selain itu juga diimbau kepada semua pihak agar menahan diri dan tidak melakukan aksi lagi serta menghentikan postingan yg provokatif dan menghormati segala keputusan. (Ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *