MULAWARMAN NEWS

TESTING, ISOLASI, DESA TANGGUH COVID-19, KARANTINA WILAYAH DAN INFODEMI COVID-19

Oleh : Ahmad Hadiwijaya (Relawan Covid-19)

Kasus Covid-19 kian hari makin bertambah. Indonesia menempati posisi teratas untuk jumlah kasus dan menyumbangkan 70 persen angka kematian yang ada di Asia Tenggara.

Belum ada satupun ahli yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Kemampuan mutasi, beragamnya jumlah strain, vaksin yang belum ditemukan, laju hoax yang tidak terkendali yang berakhir dengan tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah menjadi faktor yang menyebabkan keadaan ini makin berkepanjangan.

Dalam keadaan peningkatan kasus yang makin tak terkendali beberapa hal dapat dilakukan secara lebih serius dan terstruktur disamping dengan edukasi masif masyarakat untuk tetap physical distancing, mencuci tangan dengan sabun memakai air mengalir, dan memakai masker kemanapun. Beberapa hal tersebut antara lain:

  1. Testing

Meningkatkan pemeriksaan Covid-19 dengan menggunakan PCR.

Deteksi virus ini harus dilakukan secara besar-besaran, tidak hanya terbatas dari hasil tracking dan tracing tetapi semua penduduk dalam satu populasi.

Pemanfaatan PCR sebagai gold standar diagnostic Covid-19 tidak bisa ditawar lagi. Menggunakan PCR dengan “pooling methode” telah dicontohkan berhasil dibeberapa daerah dengan biaya yang tidak terlalu besar.

  1. Isolasi dan Desa Tangguh Covid-19

Dari hasil testing yang dilakukan secara masif akan teridentifikasi pasien-pasien yang konfirmasi positif sehingga langkah selanjutnya adalah isolasi. Isolasi dapat dilakukan secara mandiri tapi tetap dengan pengawasan relawan atau satgas Covid-19 yang berada dalam wilayah tersebut. Keberadaan Desa Tangguh Covid-19 atau semacamnya akan sangat meringankan kerjaan TGC Kabupaten/Kota. Desa Tangguh Covid-19 telah dilatih dan dikonsep untuk kemandirian dalam penanggulangan Covid-19. Bukan hanya sekedar skrining dengan termogun tapi sampai pada kesiapan isolasi mandiri masyarakatnya bahkan kesiapan pangan melalui konsep ketahanan pangan swadaya.

Mengisolasi mereka yang positif akan menyebabkan tidak terdapatnya “spreader” beredar dalam masyarakat sehingga penambahan kasus akan sangat bisa untuk ditekan, apalagi jika dibarengi dengan pengawasan ketat wilayah perbatasan.

  1. Karantina Wilayah

Proses testing, isolasi pasien konfirmasi positif dan memaksimalkan Desa Tangguh Covid-19 yakin akan memberikan dampak positif dalam penanggulangan Covid-19 terlebih jika dibarengi dengam karangtina wilayah.

Karangtina Wilayah dalam satu masa akan menyebabkan populasi yang berada didalamnya tidak akan bercampur dengan tambahan individu dari luar wilayah yang kemungkinan justru membawa virus dan dapat menyebarkan dalam populasi tersebut. Tak perlu waktu lama, cukup dalam satu periode inkubasi virus kemudian di evaluasi dan diambil langkah strategis lain.

Pemerintah dan dinas terkait tentunya harus siap dengan rekayasa ekonomi dan sosial agar tidak muncul gejolak lain terkait hal ini. Tapi jika berangkat dari edukasi masyarakat yang tuntas, maka hal ini pasti tak akan terjadi karena kultur sosial masyarakat kita masih sangat mendukung untuk hal tersebut.

  1. Infodemi Covid-19

Gempuran informasi seputar Covid-19 seperti tak habis-habis sebagaimana pandeminya.

Informasi tak terbatas menyebabkan sudah sangat sulit mengenali mana informasi yang benar, hoax, palsu, dan info lain yang sulit di verifikasi.

Keadaan-keadaan ini menyebabkan kita jatuh kedalam suatu Infodemi. Infodemi ini hadir dalam setiap pandemi dari masa ke masa, tapi mudahnya akses sistem informasi melalui internet menyebabkan Infodemi saat ini jauh lebih dahsyat dibanding dengan sebelumnya bahkan dianggap lebih berbahaya dibanding dengan pandemi itu sendiri.

Infodemi bahkan berisi informasi yang lebih terstruktur dan menyentuh mulai dari tingkat penyebab sampai penanganan Covid-19.

Tidak sulit menemukan informasi tentang Covid-19 adalah suatu konspirasi, hanya buatan tenaga medis, bisnis tenaga medis, hingga hoax lain yang terkait dengan virus.

Demikian pula informasi tentang pengobatan yang tidak berdasar “evidence based medicine”, seperti pemanfaatan Eucalyptus sebagai anti corona atau beragam metode pengobatan lain. Celakanya, masyarakat kita masih senang dan tertarik dengan informasi seperti itu.

Keadaan infodemi seperti itu memberi efek negatif dalam penanggulangan Covid-19 bahkan kadangkala menjadi batu sandungan yang menghalangi penanggulangan Covid-19.

Harusnya dibuat suatu sistem yang mampu menakar informasi yang masuk dimasa Pandemi Covid-19 sambil informasi yang benar harus sering digulirkan dari sumber yang jelas dan mudah di verifikasi.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *