MULAWARMAN NEWS

Hadapi Ancaman African Swine Fever, Karantina Pertanian Balikpapan Gelar Sosialisasi Kesiapsiagaan Dini

MNEWSKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Perkembangan terkini dari Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan atau OIE terkait wabah African Swine Fever (ASF) di beberapa negara seperti Asia, Afrika, dan Eropa menjadi sinyal penting bagi Pemerintah untuk siaga terhadap ancaman masuknya penyakit tersebut.

Karantina Pertanian Balikpapan yang memiliki Tupoksi dalam pencegahan masuk, tersebar dan keluarnya Hama Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, menjadi salah satu garda terdepan dalam menghadapi ancaman ASF ini.

Wujud nyata yang dilakukan Karantina Pertanian Balikpapan dalam menghadapi ancaman ASF yaitu diadakannya sosialisasi kesiapsiagaan dini yang diselenggarakan di Aula Mahakam Karantina Pertanian Balikpapan, Selasa (19/11/2019) . Tak hanya Instansi terkait, para agen pelayaran dan pihak swasta juga diundang dalam sosialisasi tersebut.

Narasumber dalam sosialisasi tersebut drh. Bambang Erman mengatakan virus yang sedang diperbincangkan di khalayak ramai ini bersifat sangat menular pada ternak babi. Bahkan, dapat menimbulkan kematian yang tinggi.

“Virus ini sangat mematikan pada babi, dengan tingkat kematian dapat mencapai 100 % dan tentu saja menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi terutama bagi peternak babi “, jelas drh. Bambang Erman.

Kerugian besar dapat terjadi tentunya tidak terlepas dari populasi babi di Indonesia yang mencapai sekitar 8,5 juta ekor.

“Belum adanya vaksin yang efektif terhadap ASF menjadi salah satu permasalahan dalam mengendalikan penyakit ini “, tambah Bambang.

Lalu lintas produk hewan asal babi serta sampah sisa makanan menjadi salah satu poin penting untuk dikendalikan dan dilakukan perlakuan, mengingat penyakit ini dapat menular ke babi melalui produk pangan asal babi serta sampah sisa makanan.

Dia juga menyampaikan beberapa strategi penting yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman ASF, diantaranya kesiagaan dini, Quarantine Health Control, Pre Shipment Inspection, Penilaian negara atau daerah asal, peningkatan pengawasan, pelarangan, tindakan karantina, dan pembatasan.

“Hal ini tidak terlepas dari koordinasi, kerjasama, kolaborasi Karantina Pertanian dengan Instansi terkait, agen pelayaran, dan pihak swasta karena penyakit ini dapat menular dari produk pangan asal babi serta sampah sisa makanan yang terbawa dari luar negeri ke Indonesia “, ujar Bambang.

Sementara, Kepala Balai Karantina Pertanian Balikpapan Abdul Rahman mengatakan dengan adanya sosialisasi ini merupakan upaya peningkatan kesadaran dan koordinasi bersama dengan instansi terkait, agen pelayaran dan pihak swasta sebagai antisipasi masuknya ASF di Indonesia, khususnya Provinsi Kalimantan Timur. (drs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *