MULAWARMAN NEWS

Shalat, dari Tradisi menuju esensi

Oleh : Restu Aulia,S.Pd.I

Shalat secara lughowi adalah doa dan menurut istilah adalah suatu perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Dengan demikian di definisikan bahwa shalat adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seseorang dimulai dengan takbiratul ihram, yang sesungguhnya dengan mengucapkan takbir dan mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan telinga, maka setiap pekerjaan yang bukan termasuk dalam ritual shalat diharamkan. Ini telah diatur dalam hukum fiqh tentang berapa kali kita boleh bergerak diluar gerakan sholat. Namun, dalam curhatan saya kali ini tidak berbicara luas mengenai hukum tapi lebih kepada essnsi daripada shalat.

Shalat adalah sesuatu yang di wajibkan oleh Allah Swt yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw pada saat Isro Mi’raj, begitu urgennya ibadah shalat ini sehingga dalam penyampaiannya melalui kejadian yang sangat luar biasa, yang mana Isro dan Mi’rajnya Nabi hanya dilakukan dalam waktu yang begitu singkat yaitu satu malam.

Shalat dapat diklarifikasikan menjadi 2 kelompok, yang pertama adalah kelompok ritualisme, kelompok ini memandang bahwasanya menegakkan agama bisa hanya dengan ritual-ritual dengan menonjolkan simbol-simbol fisiknya. Mayoritas kelompok ini berpandangan bahwa kesuksesan orang dalam beragama adalah pada saat sholat lima waktu terpenuhi, membayar zakat, dan puasa ramadhan satu bulan penuh atau “mungkin” juga naik haji satu bulan sekali, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan ritual-ritual tersebut bisa menjamin akhlaq seseorang?
Hanya Anda para pembaca budimana yang tahu jawabannya.

Kelompok kedua adalah esensial, meskipun kelompok ini berpandangan sama yaitu bahwasanya shalat itu wajib. Namun, sebagai barometer kesuksesan orang beragama bukanlah pada ritual dan simbol-simbol yang si show up, tapi lebih kepada sejauh mana orang tersebut menyerap esensi di balik ibadah-ibadah ritual, tapi bukan berarti ritual tidak penting.

Kedua kelompok tadi bukanlah untuk di jadikan perdebatan, mana yang lebih penting atau paling baik. Namun, bisa digunakan sebagai skala kompetensi bagi kita, karena di dalam shalat pun ada hukum skala kompetensi yang berlaku. Meskipun mayoritas umat Islam menjalankan lima waktu, tetapi hasilnya di dunia ini dan pahalanya di akhirat nanti akan berbeda. Sebagian orang yang menjalankan shalat dapat memberikan effect yang positif. Namun, juga tidak sedikit orang yang menjalankan shalat namun, tidak memberikan effect positif sedikitpun. Jangankan effect positif, mencegah perbuatan negatif pun tidak. Ini semua tergantung dari niat awal kita melakukannya.

Semua kompetensi yang ada dalam sholat dimulai dari ketaatan ritual kemudian berlanjut kepada realisasi-esensinya dalam kehidupan pribadi, kemudian berlanjut lagi pada esensi kehidupan sosial dan seterusnya. Jadi, ritual itu penting dan esensi pun penting. Sehingga ritual adalah raganya dan esensi adalah jiwanya. Kalau orng hidup dengan raganya maka ia mati dalam kehidupannya dan begitu pula sebaliknya. Dan Allah Swt berfirman dalam kitabNya yang InsyaAllah artinya: sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca, dan semoga Amal ibadah kita dibulan suci Ramadhan tidak sisa-sia dan apa pun yang kita lakukan adalah sesuatu yang di ridhoi Allah Swt. Aamiiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *