Beranda / MNewsiana / Budaya Penajam Paser dalam Menghadapi Era Globalisasi

Budaya Penajam Paser dalam Menghadapi Era Globalisasi

ilustrasi

Oleh : Hera Clara Arum (Universitas Muhammadiyah Malang)

Dalam kehidupan sekarang ini, globalisasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat modern. Meski membawa berbagai kemajuan, terutama dalam bidang teknologi dan informasi, dampaknya terhadap budaya lokal tak bisa dianggap sepele. Salah satu yang terdampak cukup nyata adalah budaya Dayak Paser di Penajam Paser, Kalimantan Timur. Masuknya budaya luar yang begitu cepat membuat generasi muda mulai meninggalkan bahasa daerah mereka sendiri. Bahasa Paser, yang dulu menjadi alat komunikasi sehari-hari, kini hanya bisa dituturkan dengan lancar oleh para orang tua dan kakek-nenek. Sementara anak muda lebih nyaman memakai bahasa Indonesia atau bahkan bahasa gaul yang dipengaruhi oleh media sosial dan hiburan global. Jika situasi seperti ini dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa Paser akan benar-benar punah di masa depan, bersama dengan identitas dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Kondisi ini juga terlihat dalam hal lain, seperti makanan dan pakaian adat. Kuliner tradisional khas Paser, misalnya Ponta dan jengkol lala, sudah semakin jarang dikenal bahkan oleh masyarakat lokal sendiri. Banyak anak muda yang lebih tertarik mencoba makanan asing, seperti makanan Korea atau Jepang, yang lebih sering mereka lihat melalui media digital. Begitu pula dengan pakaian adat Dayak Paser yang memiliki makna budaya mendalam dan tampilan yang khas, kini mulai terpinggirkan karena dianggap kuno atau tidak relevan dengan zaman. Padahal, baik kuliner maupun busana tradisional memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk budaya dan pariwisata daerah, yang secara langsung juga bisa mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.

Sayangnya, upaya pelestarian budaya di wilayah ini masih tergolong minim. Berbeda dengan daerah lain seperti di Pulau Jawa yang masih mengajarkan bahasa daerah di sekolah, di Penajam Paser tidak ada kebijakan pendidikan yang mengarah pada pelestarian budaya lokal. Saya sendiri, sebagai bagian dari generasi muda di daerah ini, merasakan betul kurangnya ruang untuk belajar dan mengenal lebih dalam budaya Paser di bangku sekolah. Ketika pendidikan formal tidak memberi tempat bagi budaya lokal, wajar jika masyarakat pun kurang memiliki rasa kepemilikan terhadap warisannya. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk hadir dengan kebijakan yang lebih inklusif terhadap budaya daerah—misalnya dengan memasukkan bahasa Paser sebagai muatan lokal dan memperbanyak kegiatan yang berkaitan dengan budaya asli daerah.

Masyarakat juga memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan budaya. Di era digital seperti sekarang, anak muda sebenarnya bisa memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan budaya mereka sendiri. Misalnya dengan membuat konten berbahasa Paser, memperkenalkan makanan khas melalui video, atau menampilkan pakaian adat dalam berbagai kegiatan. Langkah-langkah kecil seperti itu jika dilakukan secara kolektif bisa memberi dampak yang besar, dan lebih penting lagi, bisa menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap jati diri budaya lokal.

Terlebih lagi, sekarang Penajam Paser menjadi bagian dari kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ini seharusnya menjadi peluang emas untuk menunjukkan bahwa selain suku Dayak lainnya, Banjar, atau Bugis, Dayak Paser juga punya peran dan identitas yang kuat. Namun jika budaya Paser terus terpinggirkan dan tidak dikenalkan secara aktif, maka eksistensinya akan sulit terlihat di tengah-tengah keberagaman budaya lainnya. Kesempatan ini mestinya dimanfaatkan untuk menegaskan bahwa budaya Paser layak dikenal dan dihargai, tidak hanya di Kalimantan Timur tapi juga di seluruh Indonesia.

Dari semua hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa budaya Dayak Paser berada dalam posisi yang cukup rentan jika tidak ada langkah konkret untuk melestarikannya. Pelestarian budaya bukan berarti menolak perubahan, tapi justru menunjukkan bahwa budaya lokal bisa bertahan dan berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Bahasa, kuliner, pakaian, dan tradisi masyarakat Paser bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan kekayaan identitas yang bisa menjadi kekuatan daerah. Sebagai generasi muda, kita punya tanggung jawab untuk tidak hanya mewarisi, tetapi juga merawat dan menghidupkan kembali budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *