Beranda / MNews Paser / Tak Sekadar Tuan Rumah, Bupati Fahmi Siap Adu Bet Tenis Meja dengan Atlet Mancanegara di Paser ITTC 2026

Tak Sekadar Tuan Rumah, Bupati Fahmi Siap Adu Bet Tenis Meja dengan Atlet Mancanegara di Paser ITTC 2026

MNEWSKALTIM.COM, PASER – Deru langkah para atlet dunia di cabang olahraga (cabor) Tenis Meja segera menggema di Kabupaten Paser.

Untuk pertama kalinya, daerah di selatan Kalimantan Timur ini akan menjadi panggung Paser International Table Tennis Championship (ITTC) 2026, sebuah turnamen yang bukan hanya mempertemukan atlet nasional dan mancanegara. Tetapi juga membawa mimpi besar menjadikan Paser sebagai destinasi sport tourism bertaraf internasional.

Yang membuat turnamen ini semakin istimewa, Bupati Paser Fahmi Fadli tidak hanya berdiri di podium pembukaan sebagai tuan rumah. Ia memilih turun langsung ke arena pertandingan, mengangkat bet dan menantang atlet-atlet dari berbagai negara.

Keputusan itu bukan sekadar simbolis. Di baliknya tersimpan pesan kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Paser ingin menunjukkan keseriusan membangun olahraga sebagai wajah baru daerah.

Hingga kini, panitia mencatat 153 atlet telah memastikan keikutsertaannya. Mereka datang dari berbagai provinsi di Indonesia serta dari mancanegara.

Seperti Malaysia, Filipina dan Kamboja. Sementara atlet dari Jepang dan Korea Selatan masih menyelesaikan proses administrasi sebelum bergabung.

Ketua Panitia ITTC 2026 Arief Rahman, memastikan Bupati Fahmi akan ikut bertanding pada kategori khusus yang mempertemukan peserta lokal dengan atlet internasional. “Pak Bupati juga akan tampil sebagai peserta melawan atlet internasional,” ujarnya.

Namun bagi Fahmi Fadli, turnamen ini jauh melampaui persoalan menang atau kalah di atas meja pertandingan.

Di hadapan seluruh kepala OPD, panitia, aparat keamanan hingga pihak imigrasi dalam rapat persiapan, ia berkali-kali mengingatkan bahwa nama baik Kabupaten Paser sedang dipertaruhkan.

Baginya, setiap atlet yang datang adalah tamu yang harus disambut dengan pelayanan terbaik sejak menginjakkan kaki di Bandara Balikpapan hingga kembali pulang ke negaranya.

“Kalau nasional mungkin masih bisa dimaklumi apabila ada kekurangan. Tetapi karena ini internasional, kita tidak boleh mengecewakan mereka,” tegas Fahmi.

Karena itu, ia meminta seluruh detail dipersiapkan tanpa celah. Petugas penjemput harus sudah mengenali nama dan wajah atlet di bandara.

Arena pertandingan harus nyaman dengan pendingin ruangan yang memadai. Transportasi, akomodasi, keamanan, hingga konsumsi harus benar-benar siap.

Bahkan urusan kecil seperti penataan parkir, lokasi UMKM sampai jalur lalu lintas pun mendapat perhatian khusus.

Semuanya dilakukan demi satu tujuan: membuat para atlet pulang membawa cerita baik tentang Kabupaten Paser.

“Jangan sampai mereka sudah jauh-jauh datang, tetapi justru kapok untuk kembali. Kita ingin mereka merasa nyaman, sehingga ketika Paser menggelar turnamen lagi, mereka ingin datang lagi,” katanya.

Harapan itu bukan tanpa alasan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Paser, ITTC 2026 merupakan bagian dari strategi besar mengembangkan sport tourism.

Sebuah konsep yang menjadikan olahraga sebagai pintu masuk memperkenalkan budaya, keramahan, kuliner, serta potensi ekonomi daerah kepada dunia.

Selama sepekan pelaksanaan turnamen, ratusan atlet, ofisial, keluarga serta wisatawan mancanegara diperkirakan akan menghidupkan hotel, restoran, transportasi dan pelaku UMKM lokal.

Inilah yang ingin dibangun Pemerintah Kabupaten Paser, dimana olahraga bukan hanya menghasilkan juara tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dukungan pun terus mengalir. Kantor Imigrasi Kelas I TPI Balikpapan memastikan siap memfasilitasi proses kedatangan atlet asing.

Sementara berbagai mitra, termasuk PT Kideco Jaya Agung, membantu penyediaan transportasi untuk memastikan mobilitas peserta berlangsung lancar.

Jika semua berjalan sesuai rencana, 20 Juli 2026 bukan hanya menjadi hari pembukaan sebuah turnamen tenis meja.

Hari itu akan menjadi momentum ketika Kabupaten Paser memperkenalkan dirinya kepada dunia. Bukan sekadar sebagai daerah penghasil sumber daya alam tetapi sebagai tuan rumah yang ramah, siap menyelenggarakan event internasional dan berani bermimpi menjadi salah satu destinasi sport tourism terbaik di Indonesia.

Dan ketika peluit pertama dibunyikan, sorotan tak hanya tertuju kepada atlet-atlet mancanegara.

Di salah satu meja pertandingan, seorang bupati akan berdiri sebagai pemain. Membuktikan bahwa semangat olahraga mampu menyatukan persaingan, persahabatan dan promosi daerah dalam satu panggung internasional. (sad)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *