
MNEWSKALTIM.COM, PASER – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Petangis Kecamatan Batu Engau Kabupaten Paser meraup cuan hingga Rp 10 juta dalam sekali panen.
Keuntungan itu diperoleh para petani dari pembudidayaan ternak lebah yang menghasilkan madu kelulut pada areal seluas 500 meter persegi.
“Usaha ini dijalankan 3 kelompok tani yakni Tani Hutan Anggrek Bura, Hafizh Grup, dan Kelompok Wanita sejak Mei 2021 lalu,”
Sekretaris Desa Petangis, Zulvian Pratama, Jumat (4/3/2022)
Zulvian menjelaskan, keuntungan madu kelulut diakui bisa meningkatkan daya tahan tubuh agar bisa terlindung di tengah pandemi Covid-19.
“Konsumen madu ini berasal dari semua kalangan, mulai masyarakat biasa hingga anggota dewan karena bisa meningkatkan imunitas tubuh,” jelasnya.
Dia juga mengungkapkan bahkan petani terkadang bisa kewalahan memenuhi kebutuhan konsumen pelanggan madu kelulut Desa Petangis.
Baca Juga :
- DPR RI Sahkan RUU PPRT Jadi Undang-Undang, Penantian 22 Tahun Berakhir
- Perbaikan Infrastruktur Jalan di Paser Ditargetkan Tuntas Bertahap
- Ketua Ombudsman RI Diciduk Kejagung, Diduga Terima Rp1,5 Miliar Terkait Kasus PNBP
- Bawaslu Paser Gencarkan Edukasi Demokrasi, Perkuat Peran Generasi Muda Mengawal Pemilu 2029
- Ratusan Bibit Anggrek dan Aglaonema Ilegal Digagalkan di Pelabuhan Trisakti, Karantina Kalsel Perketat Pengawasan
Gapoktan yang membudidayakan madu kelulut ini, lanjutnya, dibawah pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser.
“Modal awal dibantu DLH Paser sebanyak 250 wadah kelulut atau toping, dan selanjutnya ada bantuan bergulir,” terangnya.
Hingga saat ini, toping yang miliki Gapoktan berjumlah 350 buah yang mampu menghasilkan 20 liter madu kelulut.
“Bahkan apabila ada konsumen mau merasakan sensasi menyedot langsung madu dari wadahnya, bisa datang ke peternakan,” kata Zulvian. (sas/rh)






