
Oleh : Hera Clara Arum (Universitas Muhammadiyah Malang)
Di tengah derasnya gelombang modernisasi, Penajam Paser tidak luput dari pengaruh globalisasi. Anak-anak muda kini lebih cenderung mengadopsi budaya global seperti musik Korea, tren busana internasional, dan kuliner luar negeri ketimbang menggali kekayaan kultur lokal yang mereka miliki. Pakaian tradisional Dayak Paser yang kaya akan makna dan estetika mulai tergeser oleh gaya berpakaian yang dianggap lebih “kekinian.” Sementara itu, kuliner khas seperti Ponta dan jengkol lala semakin kehilangan tempat di hati generasi z.
Pemindahan Ibu Kota Nusantara ke Penajam Paser Utara menjadi momen penting bagi daerah ini. Di satu sisi, masyarakat adat menyambut dengan harapan bahwa identitas budaya mereka akan diangkat dan dihormati melalui integrasi nilai-nilai lokal dalam perencanaan kota, fasilitas publik, hingga ruang seni. Ritual adat seperti bersoyong dan tipong tawar juga sudah mulai diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan resmi. Namun, pembangunan massif ini juga menyisakan kekhawatiran: ancaman terhadap lahan ulayat, potensi marginalisasi sosial, hingga kasus perlakuan hukum terhadap penduduk yang berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka.
Bahasa Dayak Paser, yang telah diakui secara resmi dan masuk dalam kurikulum lokal, nyatanya belum cukup kuat untuk bersaing dengan dominasi bahasa Indonesia dan ragam gaul anak muda. Penerapan kebijakan pendidikan bahasa lokal masih terkendala oleh kurangnya tenaga pengajar dan infrastruktur, di mana banyak pelajar lebih memilih menggunakan bahasa gaul dan Indonesia dalam komunikasi sehari-hari.
Faktor urbanisasi dan migrasi turut mempercepat perubahan budaya lokal. Kehadiran berbagai suku seperti Jawa, Bugis, dan Banjar di daerah ini mengikis ruang bagi praktik bahasa asli dalam kegiatan harian. Hal ini memperlemah kehadiran Paser dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun kehidupan sosial di pasar dan tempat umum.
Tak hanya bahasa dan pakaian, kuliner juga merasakan dampak serupa. Anak muda kian tertarik pada makanan cepat saji dan jajanan luar kota, sedangkan pangan lokal dengan nilai budaya seperti Ponta dan jengkol lala semakin langka. Tanpa edukasi dan platform yang menonjolkan kuliner lokal, pengetahuan dan keberadaban pangan khas ini berisiko dilupakan.
Perubahan ini juga menciptakan dilema identitas di kalangan generasi muda. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada tekanan modernisasi: ingin tampil gaya, mengikuti tren, dan meraih sukses dengan standar global. Di sisi lain, terdapat warisan lokal yang menekankan nilai solidaritas, kerjasama komunitas, dan relasi harmonis dengan alam. Ketika pilihan modern lebih menggoda, pentingnya pemahaman budaya lokal sering terlupakan atau dianggap kuno.
Upaya pelestarian melalui festival budaya dan kegiatan seni sudah dilakukan seperti Penajam Paser Utara Fest 2023 dan seminar dari Kesultanan Paser namun daya tarik peserta muda masih terbatas. Meskipun demikian, inisiatif ini tetap bernilai sebagai titik awal, membuka kesadaran akan pentingnya budaya daerah.
Justru dalam era digital ini terdapat kemungkinan besar untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelestarian. Berbagai komunitas global, contohnya suku Igorot di Filipina, sudah berhasil membangkitkan kembali kesadaran budaya lewat media sosial dan platform daring. Mereka mempromosikan tarian, bahasa, dan upacara adat dengan cara yang menarik generasi muda. Model serupa dapat diterapkan di Penajam Paser: melalui kanal digital blog, vlog, podcast yang mengangkat bahasa Paser, kuliner tradisional, hingga kesenian lokal.
Jika ingin mempertahankan langgengnya budaya dan bahasa lokal, perlu ada strategi komprehensif. Pertama, integrasi bahasa dan budaya lokal ke dalam sistem pendidikan formal dan informal harus diperkuat, dengan lebih banyak guru unggul, modul ajar berkualitas, dan mentor adat. Kedua, pengelola IKN perlu menjadikan elemen budaya sebagai bagian dari struktur kota seperti sanggar seni permanen dan kegiatan seni adat rutin. Ketiga, perlindungan terhadap hak ulayat masyarakat adat wajib dijamin melalui kebijakan publik dan proses pembangunan yang inklusif. Keempat, dukungan berupa anggaran dan fasilitas untuk komunitas budaya lokal amat penting agar aktivitas budaya bisa berkembang dan mendapatkan perhatian publik. Dengan pendekatan seperti ini, globalisasi bisa menjadi katalis, bukan ancaman. Bila budaya Paser tampil percaya diri, adaptif, dan relevan dalam ragam media modern, maka budayanya bukan saja terjaga, tetapi juga bisa menjadi sumber kebanggaan dan kekuatan identitas di era global.
SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS





