Beranda / MNewsiana / Pendidikan Kita di Tengah Pandemi Covid-19

Pendidikan Kita di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Pahriansyah

Setiap tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Disaentero negeri ini pun, tak pernah alfa, untuk melaksankan Upacara HARDIKNAS. Selain itu, kita sering menyaksikan dibeberapa daerah tertentu. Ada yang mengenakan pakaian adat, sebagai identitas kebudayaan yang dimilikinya. Mungkin saja, hal semacam ini menyesuaikan dengan tema yang diusung saat akan memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Tahun ini, tentu akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika ditahun-tahun sebelumnya, kita bisa melaksanakan Upacara HARDIKNAS dan mendengarkan teks pidato Menteri Pendidikan yang dibacakan oleh Pembina Upacara. Selain itu berbagai macam rangkaian serimonial turut mengisi dalam peringatan tersebut. Dimana setiap orang bisa bejabat tangan, berpelukan, dan cipika-cipiki. Sebagai bentuk keakraban untuk saling mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional.

Tetapi kali ini, kemungkinan kita tak akan menemukan momen yang serupa seperti sebelumnya. Mengapa? Karena Upacara bendera HARDIKNAS ditiadakan. Hanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja yang akan melaksanakan Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional. Walaupun demikian, Kepala Sekolah, Guru, dan Siswa tetap dapat menyaksikan upacara tersebut melalui kanal youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan saluran TVRI pada tanggal 2 Mei 2020.

Merefleksikan Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Memperingati Hari Pendidikan Nasional, kita tidak bisa melepaskan dari konteks sejarahnya. Dalam catatan sejarah, setidaknya ada sejumlah pahlawan nasional yang juga berjasa dalam pendidikan di Indonesia. Salah satunya ialah RM Soewardi Soejaningrat yang kelak mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah salah seorang tokoh pergerakan nasinonal yang berjasa besar dalam dunia Pendidikan di Indonesia. Tepatnya pada tanggal 3 Juli 1922, beliau mendirikan sekolah Nastional Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa di Jogjakarta.

Ada tiga konsep yang menjadi semboyan, sekaligus merupakan warisan dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang sampai saat ini masih sangat relevan. Diantaranya; a. Ing ngarsa tuladha berarti guru sebagai pemimpin (pendidik) yang berdiri didepan harus mampu memberi teladan kepada anak didik), b. Ing madya mangun karsa yang berarti seorang guru (pendidik) Ketika berada ditengah harus mampu membangkitkan semangat, berswakarsa dan berkreasi pada anak didik), c. Tut wuri handayani yang berarti seorang guru (pendidik) yang berada dibelakang itu selalu mengikuti dan mengarahkan anak didik agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

Memakai konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara, kita ingin menghadirkannya kembali ditengah situasi pandemi Covid-19 yang sedang melanda negeri ini. Upaya ini, sebagai spirit dan motivasi terutama bagi dunia pendidikan, khususnya pendidik. Bila kita menilik lebih dalam terhadap konsep tersebut maka kita akan menemukan satu rangkaian pemikiran yang utuh dan progresif. Bagaimana Ki Hajar Dewantara begitu konsen ternadap perkembangan anak didik. Melalui peran guru (pendidik). Dengan tujuan, untuk dapat mewujudkan budi pekerti, pemikiran dan jasmani anak ke arah masa depan yang lebih baik.

Akan tetapi apa yang menjadi harapan oleh Ki Hajar Dewantara memang belum bisa sepenuhnya terwujud. Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), di Paris. Menempatkan Indonesia di peringkat 72 dari 77 negara. Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas Pendidikan di dunia, yang menilai kemampuan membaca, matematika dan sains. Belum lagi dari karakter moral. Tidak salah bila, kualitas Pendidikan turut mempengaruhi sumber daya manusia itu sendiri. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa kualitas Pendidikan Indonesia belum bisa mengalami kenaikan secara signifikan sampai saat ini. Biarlah ini menjadi kajian dan diskusi para pakar Pendidikan, termasuk pemerhati Pendidikan, dan organisasi-organisasi yang bergerak dalam dunia Pendidikan. Dalam merumuskan strategi dan Langkah-langkah terobosan apa yang akan dilakukan kedepannya. Kendatipun demikian, rasa optimisme itu tetap ada. Bahwa Pendidikan di Indoensia akan bangkit. Sekalipun memerlukan waktu yang relatif lama.

Belajar dari rumah

Dengan adanya pemberlakukan sosial distancing atau yang sekarang berubah menjadi physical distancing oleh pemerintah, tentu hal ini pula, yang menyebabkan seluruh elemen masyarakat harus mematuhi aturan tersebut dengan penuh kesadaran. Seperti menghindari kerumunan dan menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain. Begitupun pula halnya dalam dunia Pendidikan.

Kita ketahui bersama, semenjak pemberlakukan sosial distancing atau physical distancing oleh pemerintah. Dunia pendidikan, seperti sekolah-sekolah ataupun kampus, yang idientik dengan tatap muka saat berada diruang kelas. Dalam kegiatan belajar mengajarnya. Dimana terjadi interaksi antara guru dan murid atau antara mahasiswa dengan dosen, kini harus belajar di rumah secara online.

Ditengah pandemi Covid-19, Kita menyaksikan bersama, bagaimana Pendidikan kita. Ternyata, virus Corona yang sangat membahayakan bagi siapapun, tidak serta-merta menghentikan proses pembelajaran. Sebuah ikhtiar telah dilakukan. Yaitu belajar dari rumah. Ini adalah salah satu cara dalam meneguhkan keberlangsungan pendidikan. Baik pemerintah, sebagai pemangku kebijakan. Guru, orang tua dan murid mempunyai semangat yang sama, agar tetap bisa melangsungkan proses pembelajaran. Bayangkan saja, jika diantara salah satunya tidak bersinergi. Maka ketika itu pula, pendidikan akan mengalami stagnan. Inilah hal yang patut kita syukuri hingga saat ini.

Mungkin saja, diera para tokoh pendidikan tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan pendidik, sumber dan media pembelajaran, termasuk terknologi. Kini, dimana semua fasilitas telah tersedia, justru yang dihadapi adalah Covid-19.

Sekalipun penyebaran virus corona begitu masif, akan tetapi tak melunturkan semangat seluruh siswa untuk terus belajar. Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Telah berupaya semaksimal mungkin agar pembelajaran bisa tetap berlangsung. Solusi yang dilakukan ialah mengadakan kerja sama dengan TVRI untuk menyiarkan program belajar dari rumah. Hal ini dilakukan menurut Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk membatu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet. Sedangkan yang tidak memiliki kendala untuk mengakses internet, bisa mengikuti secara live streaming.

Untuk siswa menengah pertama dan menegah atas, belajar daring menggunakan sistem online tidaklah terlalu sulit. Mungkin akan berbeda dengan apa yang dialami oleh siswa tingkat dasar. Tapi ini semua, dapat teratasi dengan adanya bimbingan dan arahan dari orang tua siswa.

Dengan pemberdayaan teknologi, ini akan membantu penumbuhan kecerdasan digital pada anak. Anak akan terlatih untuk memanfaatkan teknologi sesuai dengan peruntukkannya.

Najelaa Shihab dalam bukunya berjudul semua MURID semua GURU Jilid 1, mengatakan bahwa Cerdas digital adalah bukan hanya tujuan, tapi tentang cara. Dunia digital penuh dengan pelajaran dan kesempatan, namun tantangannya pun tak kalah besar. Orang tua dan guru bijak justru memilih untuk memberdayakan, bukan memberi larangan tanpa alasan.

Kesinergian antara orang tua dan guru berperan penting bagi peserta didik dalam memunculkan sikap kritis, memperhatikan keamanan (privasi, reputasi, dan etika), mengasah kreativitas dan dapat berkolaborasi dengan banyak pihak pada saat menggunakan gadget, smartphone, atau yang sejenisnya.

Selain itu, belajar dari rumah juga menambah kerekatan hubungan orang tua dan guru. Dalam hal ini orang tua dan guru bisa saling memberikan umpan balik terhadap siswa, karena memiliki rasa tanggung jawab yang sama. Orang tua akan lebih fokus mendampingi anaknya dalam belajar. Serta orang tua akan mudah memantau bagaimana perkembangan anak dalam menangkap dan memahami pelajaran selama ini, saat berada di sekolah.

Belajar di rumah, tidak hanya bertumpu pada aspek materi (kognitif) semata. Seperti mengerjakan tugas-tugas yang diberikan secara online. Lebih dari itu, disitu ada penanaman karakter terhadap siswa. Yaitu nilai spiritual, sosial, dan keterampilan. Seperti kesadaran, kejujuran, kegigihan, kepribadian yang kuat, kedisiplinan dan rasa tangungjawab. Untuk menjalankan amanah yang telah diberikan. Sehingga tak ada perbedaan secara substansi antara belajar di sekolah maupun di rumah. Yang membedakan hanyalah tempat dan suasana.

Penulis ingin mengajak pada kita semua, untuk senantiasa memupuk dan merawat rasa optimisme serta memberikan dukungan dan kontribusi terhadap pendidikan kita ditengah pandemic Covid-19. Walaupun tantangan yang dihadapi saat ini cukup berat. Karena bagaimana pun juga pendidikan adalah penentu kemajuan. Dengan begitu apa yang menjadi harapan dan cita-cita oleh tokoh-tokoh pendidikan di negeri ini, bisa terwujud.

Diakhir, penulis ingin mengutif seperti apa yang diungkapkan oleh Haidar Bagir, Ketua Yayasan Lazuardi. Pendidikan adalah suatu kegiatan untuk mengaktualkan potensi manusia sehingga benar-benar menjadi manusia sejati. Jadi untuk mengaktualkan potensi manusia, menjadikannya manusia sejati. Tak ada kata menyerah ataupun berhenti untuk tetap belajar, mengajar dan mendidik. Meski dalam situasi genting atau sebahaya apapun. Selalu ada cara dan pilihan yang bisa dilakukan untuk mensiasati keadaan. Ini bersesuaian dengan tema yang diusung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, “BELAJAR DARI COVID-19”.

Majulah Pendidikanku

Jayalah Indonesiaku

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *