MNEWSKALTIM.COM, JAKARTA – Badan Pengawas Pemilu menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus segera menyiapkan revisi Peraturan KPU Tahapan pemilihan kepala daerah pada Mei 2020 ini.
Ketua Badan Pengawas Pemilu Abhan mengatakan revisi PKPU tersebut mesti sudah ada sebelum tahapan dimulai pada Juni 2020 kalau merujuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang penundaan pilkada yang menunda hari pemilihan ke Desember 2020.
“Kira-kira pada bulan (Mei) ini KPU harus menyiapkan soal revisi PKPU tahapan pemilu, itu penting untuk menjamin sebuah kepastian menegakkan penegakan hukum pemilu,”
Ketua Bawaslu RI Abhan
Menurut dia kalau ini tidak segera ditetapkan kembali soal tahapan pilkada maka akan ada kevakuman atau kekosongan di dalam penegakan hukum pilkada.
Contohnya, Pasal 71 Undang-undang Pilkada mengatur tentang larangan petahana melakukan mutasi jabatan enam bulan sebelum penetapan pasangan calon.
“Kalau mengacu pada PKPU 16 Tahun 2019 bahwa penetapan paslon itu 8 Juli 2020, maka mundur ke belakang adalah 8 Januari, jadi batas akhir 8 Januari, sekarang ini tentu akan berubah,” kata dia.
Kalau menggunakan skenario tersebut di PKPU tahapan yang pelaksanaan pemungutan suaranya pada 9 Desember maka Oktober 2020 adalah tahapan penetapan paslon.
Baca Juga :
- Ketua Ombudsman RI Diciduk Kejagung, Diduga Terima Rp1,5 Miliar Terkait Kasus PNBP
- Bawaslu Paser Gencarkan Edukasi Demokrasi, Perkuat Peran Generasi Muda Mengawal Pemilu 2029
- Ratusan Bibit Anggrek dan Aglaonema Ilegal Digagalkan di Pelabuhan Trisakti, Karantina Kalsel Perketat Pengawasan
- Rakorda Kaltim di Paser: Data Bencana 2025 Jadi Alarm Keras untuk Daerah
- Bawaslu Paser Gandeng Pelajar dan Mahasiswa Kawal Pemilu 2029
Kemudian, waktu larangan petahana melakukan mutasi kata dia jatuh pada April 2020 atau 6 bulan sebelum penetapan calon.
“Ini butuh kepastian,” ucap Abhan seperti dikutip dari Antara.
Revisi PKPU tahapan juga dibutuhkan karena saat ini menurut dia juga marak bantuan sosial COVID-19 yang berpotensi dimanfaatkan oleh petahana sebagai sarana kampanye.
Bawaslu mencatat ada sekitar 224 dari 270 daerah dengan bakal calon dari petahana, dan mereka berpotensi memanfaatkan kekuasaannya dalam meraup massa ketika hari pemungutan suara digelar pada Desember 2020 atau jarak hari pemilihan dengan pandemi sangat dekat. (ant)






