
MNEWSKALTIM.COM, JAKARTA – BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat satu jembatan rusak akibat banjir. Kerusakan yang dipicu peristiwa banjir tersebut terjadi di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada Kamis lalu (7/10/2021).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan dua desa terdampak di kecamatan itu, di antaranya Desa Sumber Sari dan Gunung Mulia.
“Saat banjir terjadi ketinggian muka air antara 20 hingga 40 cm. Pantauan BPBD pada hari ini, Sabtu (9/10/2021), menyebutkan tinggi muka air cenderung terus meningkat,”
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari
Muhari juga menjelaskan, berdasarkan prakiraan cuaca dua hari ke depan menginformasikan wilayah Kecamatan Babulu masih berpotensi hujan ringan.
Merespons hal tersebut, BPBD setempat mengimbau masyarakat dan perangkat daerah di kedua desa terdampak untuk tetap berhati-hati serta bersiaga dengan perlengkapan maupun peralatan jika sewaktu-waktu dibutuhkan evakuasi.
Banjir di wilayah itu dipicu luapan dan kiriman air dari Kecamatan Longkali, Kabupaten Paser. Tinggi muka air teramati di wilayah perbatasan antara Desa Sumber Sari dan Desa Sebakung yang berada di Kabupaten Paser. Genangan sempat melebar ke wilayah Desa Gunung Mulia yang berada di Kabupaten Penajam Paser Utara.
Baca Juga :
- Mulai 8 Juni, Polres Paser Gelar Operasi Patuh Mahakam 2026, Penindakan ETLE Jadi Prioritas
- Rutan Tanah Grogot Gelar Razia Blok Hunian Bersama TNI-Polri, Target Utama Bersih
- Bobol Brankas Riza Phone Tanah Grogot, Pria Asal Jone Gasak 34 HP Senilai Rp119 Juta
- Remaja Masjid Agung Nurul Falah Aktif Bantu Pelaksanaan Kurban Iduladha 1447 H
- Refleksi Profesi Menuju Konferkab PWI (Paser 2026-2029)
Kajian inaRISK menunjukkan Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki potensi bahaya banjir dengan tingkat sedang sampai tinggi yang berdampak pada empat kecamatan. Keempat kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Babulu, Waru, Penajam dan Sepaku.
BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap ancaman potensi bencana hidrometeorologi dengan memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG dan kajian risiko bencana melalui inaRISK serta imbauan perangkat daerah setempat terkait kondisi wilayah dan upaya penanganan pra dan saat bencana yang akan dilakukan. (*)






