MNEWSKALTIM.COM, IKN — Ratusan alumni HMI dan tokoh KAHMI dari berbagai daerah memadati arena Silaturahmi Regional Majelis Nasional KAHMI (SilatReg MN KAHMI) di Ibu Kota Nusantara, 8–10 November 2025. Namun di antara riuhnya kebersamaan itu, satu kursi penting tetap kosong — milik Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
Ketidakhadiran orang nomor satu di Kaltim itu menjadi pembicaraan hangat, terlebih saat sejumlah kepala daerah lain tampak hadir, termasuk Gubernur Kalimantan Barat dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara.
Koordinator Presidium MW KAHMI Kaltim, H. Murjani Zuhri, mengaku sempat berharap besar pada kehadiran gubernur.
“SilatReg ini bukan seremoni. Ini ruang gagasan, tempat para pemimpin berbagi komitmen moral terhadap bangsa,” ujarnya usai Malam Puncak Milad KAHMI ke-59.
Menurut Murjani, jauh hari sebelum acara, pihaknya sudah melakukan audiensi dengan Gubernur Rudy Mas’ud. Dalam pertemuan itu, gubernur disebut telah menyatakan kesediaannya hadir dan bahkan dijadwalkan menerima KAHMI Award atas dukungan Pemprov Kaltim terhadap kiprah HMI dan KAHMI selama ini.
“Namun sampai acara selesai, bukan hanya beliau yang tidak datang—tak ada satu pun pejabat yang mewakili,” ungkap Murjani.
Nada serupa disampaikan Bendahara MW KAHMI Kaltim, Fahrizal Helmi Hasibuan. Dia menyayangkan ketidakhadiran orang nomor satu di Benua Etam dalam agenda ini.
“Kami mengundang secara kelembagaan, bukan pribadi. Kalau berhalangan, mestinya bisa diwakilkan. Tapi yang terjadi, kursi itu tetap kosong hingga akhir,” katanya.
Ketiadaan itu, menurut sejumlah peserta, bukan sekadar persoalan absen di acara. Tapi juga soal pesan simbolik—tentang kedekatan, kepedulian, dan komunikasi seorang pemimpin dengan masyarakat dan ruang sosial yang lahir di wilayahnya sendiri.
Apalagi, dalam forum itu hadir nama besar seperti Basuki Hadimuljono, Kepala Otorita IKN, yang secara lugas menyampaikan pandangannya tentang kolaborasi lintas daerah dan masa depan pembangunan Nusantara.
Bagi sebagian besar alumni, SilatReg 2025 bukan hanya ajang silaturahmi, melainkan momentum refleksi. Dari forum inilah lahir Piagam Nusantara, sebuah rumusan komitmen moral dan intelektual untuk membangun IKN sebagai wajah baru Indonesia.






