
MNEWSKALTIM.COM, PASER – Implementasi kurikulum pelajar haruslah berorientasi lingkungan dengan cara melaksanakan program muatan lokal, misalnya menghidupkan kembali bahasa daerah di sekolah.
Terlebih bahasa Paser merupakan bahasa ibu di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara sehingga menjadi syarat mutlak menerapkan bahasa daerah kedalam muatan lokal sekolah.
“Kami mendorong bahasa Paser dimasukkan dalam kurikulum. Ini pernah dibahas saat menggodok Perda (Perlindungan dan Pelestarian Kebudayaan Adat Paser),”
Ikhwan Antasari, Rabu (16/11/2022)
Menghadapi kepindahan IKN Nusantara ke Kalimantan Timur, Dia berharap adat budaya, permainan tradisional dan bahasa Paser tidak lenyap dan harus segera diantisipasi untuk menangkal kepunahannya.
“Anak-anak harus dikenalkan dan diajarkan, sehingga mereka mengetahui apa itu budaya dan bahasa Paser,” ucap Ikhwan.
Suku Paser, lanjutnya, memiliki banyak sub suku, seperti Paser Pematang, Paser Pembesi, Paser Telake, Paser Adang, Paser Migi, Paser Pemuken, Paser Bukit.
Baca Juga :
- Bobol Brankas Riza Phone Tanah Grogot, Pria Asal Jone Gasak 34 HP Senilai Rp119 Juta
- Remaja Masjid Agung Nurul Falah Aktif Bantu Pelaksanaan Kurban Iduladha 1447 H
- Refleksi Profesi Menuju Konferkab PWI (Paser 2026-2029)
- 19 Sapi dan 9 Kambing Siap Dikurbankan di Masjid Agung Nurul Falah Paser
- Air Macet dan Keruh Jadi Sorotan, DPRD Paser Desak Perumdam Tirta Kandilo Rombak Kinerja Layanan!
Sehingga dalam keseharian, sub suku Paser ini memiliki keanekaragaman dialek atau penyebutannya seperti penyebutan benda atau hal lainnya.
“Kita punya sekian dialek. Kami menginginkan bahsa Paser sebagai bahasa ibu tidak hilang,” sebut Ikhwan. (adv)






