Beranda / MNewsiana / Peran Guru Bukan Semata Panggilan SK,Tetapi Menjadi Seorang Utusan

Peran Guru Bukan Semata Panggilan SK,Tetapi Menjadi Seorang Utusan

Oleh : Restu Aulia

Momentum pembagian Surat Keputusan (SK) yang telah terbit awal tahun 2024, dilantik oleh Bupati Paser. Bilkhusus untuk guru sebanyak 545 yang lulus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pada Selasa, 2 April 2024 di Gedung awa mangkuru.

Tentu ini merupakan semangat baru bagi guru untuk mengembangkan diri sebagai abdi negara, sebab ada motivasi sebagai guru yang berprofesi ASN selain memiliki status kinerja ada kebanggaan tersendiri yang semakin dihargai.

Ada hal yang tidak boleh dilupakan saat kita membacakan ikrar saat pelantikan yakni, sebagai pengabdian negara dan melayani Masyarakat, mengembangkan kemampuan diri agar menjadi pegawai yang profesional.

Sebagai Upaya pemerintah untuk mensejahterakan seluruh elemen bangsa. Salah satu usaha mewujudkannya yakni dengan Upaya peningkatan kualitas SDM yang baik.

Lalu, untuk meningkatkan sumber daya manusia mumpuni ini, jelas hanya bisa dicapai melalui proses Pendidikan dan pengajaran yang intens dan berkelanjutan.

Dalam sambutan Bupati Paser Fahmi Fadli, mengharapkan ada nya perubahan kinerja untuk membangun Paser Maju, Adil dan Sejahtera (PASER MAS). “Lakukan konsolidasi dan konsultasi dengan atasan maupun rekan kerja lain di lingkungan kerja” ucap Bupati Paser Fahmi Fadli

Dalam hal ini tentu banyak tantangan di era digital yang dihadapi seorang Guru yang sebagai utusan bukan karena panggilan SK.

Pada intisari nya sebagai profesi abdi negara perbaiki kualitas diri  dan merawat silaturahim setiap perkumpulan tidak ada yang sia sia jika diniatkan ibadah.

Baca Juga :

Karena seorang guru adalah utusan, dengan berdasar bunyi ayat, “wama arsalna Illa rohmatan lil’alamin”  arti nya Aku tidak mengutus Kamu Muhammad kecuali memberikan kabar gembira seluruh Rahmat, alam.

Dalam kesimpulan, kita mengajarkan PAI & Budi Pekerti karena surat atau SK. Dalam fakultas tarbiyah dengan Ushuluddin, tentu berbeda. Tentu harus berbeda dengan jurusan lainnya.

Penyampaian kalau tidak terpolarisasi dengan tarbiyah kita, maka ke khususan kita jangan sampai hanya mengajar Karena SK, tapi karena utusan. Diluar itu lepas dari kontek “wama arsalnaa Illa rohmatan lil’alamin”.

Kedua, tanda tanda guru PAI hanya tertempel di sekolah itu, hanya fokus mengajar tidak menunjukkan guru agama di masyarakat. Jangan sampai dijadikan sampingan. Ketiga, ciri ciri semoga kita bisa kembali ke habitat sebagai seorang guru yang Hasanah, bukan dholalah.

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud berpesan dalam sebuah hadis:
(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka”.
(HR. Al-Bayhaqiy dan Ath-Thabaraniy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *