
Oleh : Restu Aulia,S.Pd.I (Guru PAI SMP Negeri 2 Pasir Belengkong)
Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) datang membawa harapan besar: agar pendidikan Indonesia semakin bermutu dan menjangkau semua kalangan. Namun, harapan itu tak akan tercapai jika kita masih mengabaikan persoalan mendasar—mulai dari mutu pelayanan pendidikan, lemahnya pendidikan karakter, hingga minimnya keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak.
Hardiknas sebagai hari nasional sangat erat dengan kegiatan civitas akademika khususnya yang berkenaan dengan pelayanan pendidikan. “jika pelayanan pendidikan baik, maka pendidikan akan baik. Namun sebaliknya jika pelayanan pendidikan buruk dipastikan hasil pendidikannya pun tidak akan maksimal”. Hardiknas adalah momentum yang tepat merefleksi untuk menyelamatkan generasi muda dari kebodohan demi meneruskan cita-cita Ki Hajar Dewantara.
Orangtua dan Peran Sentral dalam Masa Depan Anak
Kedua orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam merancang masa depan anak. Dalam era digital saat ini, orangtua dituntut untuk menjadi lifelong learner—pembelajar sepanjang hayat—agar mampu terus membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan memberikan teladan dalam kehidupan anak. Dengan demikian, orangtua dapat mewariskan pola pikir positif serta paradigma hidup yang sehat, demi membekali anak untuk meraih kesuksesan di masa depan.
Kesibukan orangtua dalam pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan peran mereka dalam kehidupan anak. Justru, keterlibatan aktif dalam mendidik dan mendampingi anak merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk memperbaiki taraf kehidupan keluarga dan generasi mendatang.
Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya mengalami kegagalan yang sama seperti yang pernah mereka alami. Maka dari itu, menjadi penting bagi orangtua untuk berperan aktif dalam menyiapkan masa depan yang lebih baik—bukan hanya melalui warisan materi, tetapi juga melalui nilai-nilai kehidupan, karakter yang kuat, dan pola pikir yang sehat.

Pendidikan dalam tuntutannya saat ini diperlukan inovasi untuk menghadapi dinamika kebutuhan manusia. Untuk itu sebenarnya dibutuhkan penerapan yang seimbang antara pendidikan karakter dan tuntutan kompetensi pengetahuan dan keterampilannya.
dalam konteks Indonesia, saat ini yang dibutuhkan adalah keseriusan regulasi maupun penerapan dalam penerapan pendidikan karakter. Dalam regulasi yang ada memang sudah ada pendidikan karakter namun belum ada penterjemahan yang keoheren antara yang tertulis dengan yang berjalan dilapangan. Perlunya peran pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait. Saat ini kita seringkali ribut dan sibuk tatkala ada kasus nir etika dari dunia pendidikan, namun kita abai dengan prosesnya. Kita sibuk meributkan akibat dan tidak bertindak dengan proporsional terhadap sebabnya.
Intinya harapan penulis pribadi sebagai guru adalah, mestinya saat ini kita fokus memperbaiki karakter baik siswa maupun guru. Pandangan di atas keprihatinan terhadap pendidikan saat ini khususnya di kabupaten Paser. Dan harusnya ada regulasi yang mengatur keterlibatan orang tua dalam pendidikan anaknya. Jadi tidak lagi guru terus menerus menjadi yang tersalahkan.
Kesimpulannya, waktu terbanyak yang dihabiskan anak adalah bersama orangtua, bukan guru atau sekolah. Maka, keberhasilan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, melainkan juga sangat bergantung pada kepedulian dan peran aktif orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis berharap momentum Hardiknas tahun ini tidak dimaknai sebatas ritual saja, tapi lebih pada pemahaman makna hardiknas sehingga harapannya generasi muda khususnya yang terlibat dalam dunia pendidikan tidak sekedar menjadi menara gading tetapi lebih kreatif dan inovatif. Mengakhiri tulisan yang sederhana kata-kata Mario Teguh mungkin perlu kita renungkan kembali “Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu, orang-orang yang masih terus belajar akan menjadi pemilik masa depan”.
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang terdidik dan mengutamakan Pendidikan.
Hardiknas 2025, Partisipasi semesta mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.
SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS






