Beranda / MNews Nasional / Evakuasi Tragis Pendaki Brasil di Gunung Rinjani: Perjuangan Enam Jam Menuruni Jurang 600 Meter

Evakuasi Tragis Pendaki Brasil di Gunung Rinjani: Perjuangan Enam Jam Menuruni Jurang 600 Meter

MNEWSKALTIM.COM, LOMBOK– Proses evakuasi yang dramatis atas jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang terjatuh di Gunung Rinjani, akhirnya tuntas pada Rabu (25/6). Wanita berusia 26 tahun itu ditemukan meninggal dunia di kedalaman 600 meter dari jalur pendakian, setelah terperosok dari tebing curam pada Sabtu (21/6/2025).

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, menyebutkan bahwa proses evakuasi dilakukan melalui jalur darat karena kondisi cuaca yang tak memungkinkan penggunaan helikopter. “Rencana awal evakuasi udara batal karena cuaca memburuk. Maka kami lakukan evakuasi darat dengan tandu dari Pelawangan ke Sembalun sejauh 10 kilometer,” jelasnya.

Tim gabungan dari Basarnas, Taman Nasional Gunung Rinjani, dan relawan lokal membutuhkan waktu lebih dari enam jam menyusuri jalur terjal untuk membawa jenazah Juliana. Dalam perjalanan itu, medan curam dan berbatu menjadi tantangan berat.

Dalam unggahan di Instagram resmi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, disebutkan bahwa evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan koordinasi intensif. “[Pukul 20.40 WITA], jenazah telah tiba di Resort Sembalun dan segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Polda NTB,” tulis keterangan tersebut.

Tragedi ini bermula ketika Juliana, yang mendaki bersama rombongan, diduga terpeleset dan jatuh ke jurang pada Sabtu. Selama tiga hari penuh, tim penyelamat berusaha menelusuri tebing tempat ia terjatuh, dibantu drone dan peralatan vertikal rescue.

Pada Selasa malam (24/6), salah satu anggota tim SAR berhasil menjangkau posisi korban. “Saat diperiksa, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Selanjutnya, korban kami wrapping dan menyiapkan sistem evakuasi,” terang Syafii dalam pernyataan resmi.

Kasus jatuhnya pendaki dari tebing Rinjani bukan yang pertama kali terjadi. Gunung tertinggi kedua di Indonesia ini memang memiliki jalur pendakian yang menantang, terutama di area Pelawangan Sembalun yang terkenal curam dan sempit.

Syafii menambahkan, pihaknya telah menjalin komunikasi intens dengan keluarga korban di Brasil dan terus memberikan perkembangan situasi secara transparan.

Kini, jenazah Juliana dalam proses pemulangan ke negaranya. Tragedi ini menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan dan keselamatan dalam setiap pendakian di alam bebas. (bbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *