MNEWSKALTIM.COM, PASER – Suasana ruang rapat utama Kantor DPRD Kabupaten Paser, Senin (18/5), terasa lebih hangat dari biasanya.
Sejumlah potret keluhan warga mulai dari bak mandi yang kering, air yang keruh hingga antrean panjang pasang baru yang tak kunjung terealisasi menjadi menu utama yang “dihidangkan” para wakil rakyat di meja diplomasi.
Guna mencari solusi konkret atas jeritan masyarakat tersebut, jajaran legislatif Kabupaten Paser bergerak cepat dengan memanggil pihak manajemen Perumdam Air Minum Tirta Kandilo.
Rapat Kerja Evaluasi pelayanan ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua II DPRD Paser Hendrawan Putra didampingi Wakil Ketua I Zulkifli Kaharudin serta jajaran pimpinan komisi dan anggota dewan lainnya.
Di hadapan jajaran manajemen Perumdam Tirta Kandilo, Hendrawan Putra tanpa basa-basi langsung memaparkan tiga persoalan krusial yang paling sering dikeluhkan warga Paser belakangan ini.
“Pengaduan masyarakat yang masuk ke kami cukup tinggi. Mulai dari antrean pemasangan sambungan rumah baru, pelanggan yang sudah punya keran tapi airnya tak kunjung mengalir, hingga kualitas air bersih yang dinilai belum layak konsumsi,” ujar Hendrawan dengan nada tegas namun terukur saat ditemui awak media usai rapat.
Lebih lanjut, politisi senior ini mengingatkan agar Perumdam Tirta Kandilo tidak terjebak dalam euforia hanya mengejar target angka semata.
Seperti perluasan jaringan pelanggan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan kepastian bahwa air benar-benar mengalir sampai ke rumah warga dengan kualitas yang prima.
“Penambahan sambungan itu bagus, tapi harus dibarengi jaminan pelayanan. Jangan sampai jaringan terpasang, tapi masyarakat tetap harus memeluk jeriken karena airnya macet atau kualitasnya buruk,” cetusnya.
Dari pantauan mnewskaltim.com di ruangan, suasana rapat kerja evaluasi sempat menegang saat data mengenai tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) dipaparkan.
Pasalnya, pihak Manajemen Perumdam Tirta Kandilo mengakui bahwa kebocoran air mereka masih berada di kisaran angka yang cukup fantastis. Yakni 30 hingga 40 persen.
Bagi pihak legislatif, angka ini adalah alarm keras. Bagaimana mungkin distribusi bisa merata jika hampir separuh pasokan air “hilang” di tengah jalan?
“Dari penjelasan manajemen, diduga kuat salah satu biang keroknya karena kualitas jaringan perpipaan lama yang sudah rapuh. Begitu menerima tekanan distribusi air, pipa-pipa ini bocor di berbagai titik. Infrastruktur seperti ini yang harus segera dievaluasi dan dibenahi agar distribusi air efektif,” urai Hendrawan membedah akar masalah.
Kendati dihujani kritik konstruktif, DPRD Paser tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Perumdam Tirta Kandilo yang berencana melakukan akselerasi dengan menambah sekitar 2.900 sambungan rumah baru pada 2026 ini.
Dimana langkah strategis ini diproyeksikan mampu memotong jalur antrean panjang calon pelanggan.
“Kami tentu mendukung penuh penambahan sambungan rumah demi menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Namun kembali lagi, indikator suksesnya bukan cuma soal berapa banyak meteran baru yang terpasang, tapi seberapa puas masyarakat menikmati air bersih yang mengalir lancar,” tekan Hendrawan.
Selain urusan teknis di lapangan, rapat kerja ini juga menyentuh aspek manajerial internal. Diantaranya penyertaan modal dan reformasi sistem pembagian laba perusahaan daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54/2017.
DPRD Paser mendorong agar regulasi keuangan ini dikupas tuntas tanpa menyisakan celah multitafsir, terutama yang berkaitan dengan kewajiban penyetoran keuntungan ke kas daerah.
“Peningkatan pendapatan daerah itu memang penting, tetapi fungsi pelayanan sosial kepada masyarakat Paser harus tetap menjadi target dan orientasi utama dari Perumdam Tirta Kandilo,” pungkas Hendrawan menutup jalannya evaluasi penuh komitmen tersebut. (adv)





