Beranda / MNewsiana / Asupan Religius di Tengah Wabah Covid-19

Asupan Religius di Tengah Wabah Covid-19

Oleh : Ismail, M.Pd.I (Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser)

Secara fitrah keagamaan, jiwa manusia akan segar dengan asupan yang baik. Sebaliknya, akan layu jika asupannya tidak baik. Asupan yang baik dan menyenangkan diri manusia, menurut Ibnu Taymiyah dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, kesenangan yang dirasakan manusia sebagai asupan fisik. Seperti makan, minum, menikah, dan semacamnya yang dinikmati secara fisik. Kedua, kesenangan yang dinikmati dengan perasaan jiwa, disangkakan oleh hati. Seperti pujian, penghormatan, ditaati dan sejenisnya. Ketiga, kenikmatan yang diketahui dan dirasakan oleh hati, ruh, dan akal. Seperti kenikmatan berzikir, mengenal Allah, dan mengetahui kebenaran. Ia menambahkan, asupan yang tidak baik itu akan merusak diri. Sebagaimana fisik akan merasakan sakit bila memakan makanan yang membahayakan atau meminum minuman yang merusak fisik. Begitu pula hati atau jiwa, akan mengalami sakit bila tidak mendapatkan asupan yang baik.

Usman bin Affan pernah berkata,”Sekiranya hati kalian sudah suci, niscaya kalian tetap tidak akan merasa kenyang menikmati Firman-firman Tuhan kalian.” Ibnu Rajab juga pernah berkata,”Tidak ada yang lebih nikmat bagi seorang yang jatuh cinta, melebihi perkataan dari yang ia cintai. Itu adalah asupan hatinya dan pusaran pencariannya.”

Usman bin Affan pernah berkata,”Sekiranya hati kalian sudah suci, niscaya kalian tetap tidak akan merasa kenyang menikmati Firman-firman Tuhan kalian.” Ibnu Rajab juga pernah berkata,”Tidak ada yang lebih nikmat bagi seorang yang jatuh cinta, melebihi perkataan dari yang ia cintai. Itu adalah asupan hatinya dan pusaran pencariannya.”Ketika Kita dalam Kesulitan dan TekananKetika Kita dalam Kesulitan dan TekananUsman bin Affan pernah berkata,”Sekiranya hati kalian sudah suci, niscaya kalian tetap tidak akan merasa kenyang menikmati Firman-firman Tuhan kalian.” Ibnu Rajab juga pernah berkata,”Tidak ada yang lebih nikmat bagi seorang yang jatuh cinta, melebihi perkataan dari yang ia cintai. Itu adalah asupan hatinya dan pusaran pencariannya.”

Ketika Kita dalam Kesulitan dan Tekanan

Sudah empat bulan terakhir Covid-19 mewabah secara global di seluruh planet bumi ini. Akibatnya, kesulitan, penderitaan dan tekanan hidup tak bisa dihindarkan. Dari sisi kesehatan, pekerjaan, ekonomi dan sisi-sisi lain semua terkena dampaknya. Namun kita harus meyakini bahwa kesulitan dan tekanan hidup itu itu pasti ada akhirnya. Hanya saja, terkadang sebelum berakhir, kesulitan dan tekanan hidup itu nyaris menguras semua energi yang kita miliki. Ia hampir saja mencerabut semua kesabaran dan membuat kita terjerambab dalam lubang keputusasaan.

Memang sudah menjadi watak kesulitan selalu meningalkan pengaruh dan kesan yang tidak baik pada jiwa. Kadang membuat kita putus asa, stress, dan mematikan semangat. Kadang pula membuat kita kalap, tak bisa berpikir jernih dan tak mampu mengendalikan emosi. Seseorang misalnya, bisa nekad bunuh diri karena beratnya penderitaan yang dihadapinya. Atau seperti seorang ibu di India melempar 5 anaknya ke sungai Gangga karena kelaparan di tengah lockdown Covid-19(Tribun Kaltim, Rabu, 15/04/2020).

Manusia memang punya kelemahan ketika sedang berhadapan dengan masalah. Oleh karena itu kita perlu selalu menyiapkan diri, menghimpun kekuatan dan energi. Dan itu ada pada kebutuhan spiritual yang selalu harus kita berikan asupan ke dalam jiwa kita. Pada suasana kita sedang mengalami kesulitan seperti beberapa pekan terakhir ini, ketika musibah dan bencana menghampiri, di saat kita merasakan dunia begitu sempit karena rezeki kita yang seperti dibatasi.

Seorang sastrawan, Ahmad bin Yusuf mengatakan,”Manusia telah mengetahui bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, persis seperti datangnya siang setelah gelapnya malam. Namun kelemahan manusia selalu saja terjadi di saat bencana menimpa. Karena itu jiwa harus diberi kekuatan baru pada saat berada dalam kesulitan. Jika tidak, jiwa akan dipenuhi keputusasaan dan dapat menghancurkan diri sendiri.

Kesulitan datang sebelum kemudahan, seperti rasa lapar yang datang sebelum adanya makanan, dan makanan hanya akan terasa nikmat jika dimakan saat keadaan lapar. Karena itu, kita harus bersabar menanti datangnya makanan itu. Kita mesti bersabar menunggu datangnya pergantian masa. Tetapi perlu diingat, kesabaran itu hanya akan muncul tatkala ada asupan religius yang selalu kita berikan kepada diri kita. Ketika hari ini, misalnya, Allah swt belum juga mengangkat Covid-19 dari muka bumi ini, lalu kita nyatakan pada diri kita bahwa Allah sedang menguji kita sejauhmana kesabaran kita menghadapi wabah Covid-19 atau Dia sedang “mencuci” diri kita dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kemudia dengan ikhlas kita meminta ampunan kepada Allah dan kembali kepada jalan yang benar. Itulah asupan religious yang perlu kita tanamkan dalam diri kita saat ini.

Ketika kita mulai memahami tujuan hidup ini, kita akan mengetahui bahwa kita pasti akan diuji, baik untuk mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah ataupun untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Itu pula yang akan membuat kita sabar, yang selalu melahirkan asupan-asupan religius baru untuk terus merasa nyaman dalam keadaan dan suasana yang kurang menguntungkan.

Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:155-157:”Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ketika Kita Stay at Home

Ada sabda Nabi saw yang sangat populer dan familiar di telinga kita yakni, “Rumahku adalah Surgaku.” Sabda ini secara tersirat mengandung makna bahwa rumah haruslah menjadi tempat yang mendatangkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam hidup kita. Sejatinya, rumah memang sudah seharusnya seperti surga, karena di rumahlah tersimpan banyak sumber energi yang kita butuhkan untuk berjuang mengelola dan mempertahankan hidup ini.

Untuk itulah, suasana rumah hendaknya selalu mendapatkan asupan religius, bukan sekadar tinggal di rumah hanya untuk merebahkan diri, makan, minum, dan aktivitas lain yang biasa dilakukan di rumah. Asupan religius di dalam rumah, apatah lagi di saat ada pandemic covid-19 saat ini, sangat kita butuhkan. Sebab, tanpa adanya asupan religius itu, tidak ada ketahanan dalam rumah tangga kita. Kita sangat membutuhkan asupan itu, seperti semua orang membutuhkannya. Saat ini, kita kita tidak hanya butuh asupan yang bersifat fisik seperti sabun pencuci tangan, masker, buah yang segar, vitamin, dan lain-lain. Tapi sekali lagi, kita butuh asupan religius yang jauh lebih menguatkan dan mengokohkan imunitas kita dan tahan dari pelbagai virus yang mengerikan.

Sekadar contoh, bagi yang beragama Islam, asupan religius itu dilakukan dengan sejenak mengosongkan rumah dari kebisingan yang tidak perlu, saat Maghrib tiba, Televisi dimatikan lalu mengambil air wudhu kemudian bersama istri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya sama-sama menegakkan shalat Maghrib berjamaah, setelah itu tilawah al-Quran, berzikir, dan berdoa bersama.

Suasana seperti itu, dalam batas tertentu, termasuk dalam makna uzlah yang dianjurkan dalam agama Islam, yaitu menjauhkan diri dari kejahatan dan para pelakunya dan menjaga jarak dari orang-orang yang bodoh. Ketika kita menjauhkan diri dari kejahatan dan hal-hal yang kurang bermanfaat, kita akan memiliki kesempatan untuk merefleksikan diri kemudian berpikir dan bekelana di padang pencerahan, secara berjamaah bersama segenap anggota keluarga.

Ketika kita memalingkan diri dari hal-hal yang memalingkan diri dari menaati Allah, itu artinya kita telah memberikan diri kita sebuah obat yang paling mujarab. Ketika kita melepaskan diri dari kebisingan, kejahatan, dan pengaruh buruk ( yang selama ini banyak berada di luar rumah), maka hati dan otak kita menjadi bercahaya dan terang benderang serta hidup dan bergerak melakukan sesuatu. Hasilnya, tentu saja semakin meningkatkan keimanan, penyesalan atas dosa, dan zikir kepada Allah, Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta, Rabb yang Maha Penyayang

Selama ini, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kita mungkin lebih banyak berada di luar rumah, harus diakui pergaulan atau interaksi kita dengan teman-teman kita, sedikit atau banyak akan menyebarkan “virus-virus” yang membahayakan pemikiran kita, menggoyahkan stabilitas jiwa, dan meracuni hati kita, karena diantara teman-teman bergaul kita, mungkin terdapat sosok yang suka membuang-buang waktu, ada yang suka menyebarkan hoax, dan terampil memasarkan kejahatan dan malapetaka

Maka ketika kita stay at home, bersama dengan istri/suami, anak-anak kita atau anggota keluarga lainnya, perkuat kembali diri kita dengan asupan religius, ciptakan keheningan dengan sama-sama mengingat Allah, eratkan jiwa-jiwa yang ada di dekat kita antara satu dengan yang lain dengan interaksi yang baik, komunikasi yang menggunakan bahasa santun, luhur dan bijak, nasihat-nasihat yang memberi motivasi dan inspirasi, agar rumah kita benar-benar menjadi sumber energi dan kekuatan hidup kita, agar rumah kita laksana surga yang dapat mencegah dan memutus mata rantai covid-19. Semoga. Wallahu A’lam.

Paser, Jumat, 17 April 2020

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *