
Oleh : Ahmad Hadiwijaya (Relawan Covid-19)
Herd imunity adalah kekebalan komunitas karena masyarakat memiliki kekebalan aktif.
Kekebalan aktif dapat dimiliki seseorang dengan 2 cara yaitu dengan vaksinasi atau terpapar dengan bakteri atau virus yang dimaksud.
Covid-19 sampai saat ini belum ditemukan vaksinnya sehingga untuk membentuk Herd Imunity terhadap covid-19, masyarakat harus dibiarkan terinfeksi virus ini. Terinfeksi dalam jumlah yang besar, 80 persen.
Jika arahan untuk berdamai dengan Covid-19 ini mengarah kepada skenario herd imunity, maka kita saat berada diambang huru hara Covid-19.
N- coronavirus adalah virus yang baru, ilmuwan pun masih mengumpulkan data dan bukti bukti ilmiah tentang virus ini. Belum ada satu data ilmiah pun yang menunjukkan apakah herd imunity bisa terbentuk dengan paparan virus ini. Munculnya second infection (infeksi berulang) yang dilaporkan pada beberapa kasus yang sebelumnya konfirmasi kemudian sembuh dan konfirmasi lagi adalah alasan bahwa kuat dugaan herd imunity sulit terbentuk, ditambah dengan ditemukannya beberapa macam strain dari virus ini.
Jika skenario ini berjalan maka masyarakat akan dibiarkan untuk terpapar virus corona, sosial dan physical distancing akan diabaikan dengan melonggarkan anjuran stay home, transportasi publik dibuka, masker tak lagi menjadi sesuatu yang wajib dan sejumlah anjuran untuk memotong rantai penularan tak lagi kita dengar diteriakkan.
Berharap kekebalan komunitas yang belum pasti namun jatuhnya korban akan menjadi pasti, terlebih mereka yang memiliki komorbid.
Negara kita sempat mencapai tingkat kematian tertinggi sekitar 9,11 persen. Saat ini angka tersebut turun menjadi 8 persen. Tapi tetap masih lebih tinggi dibanding angka kematian global yaitu 5,7 persen.
Orang-orang yang rentan terinfeksi Covid-19 dan membutuhkan penanganan khusus adalah kelompok umur tua dan atau dengan penyakit bawaan seperti hipertensi, gangguan jantung, paru-paru, kanker, atau diabetes.
Data kelompok umur tidak tercatat dengan baik, Namun beberapa data menunjukkan 40 persen korban meninggal berumur lebih dari 60 tahun dan 56 persen lainnya ada di rentang umur 50-59 tahun dan kelompok umur 40-49 tahun menyumbang angka kematian sebanyak 12,5 persen dan umur di bawah 40 tahun 6,25 persen. Artinya tak cuma lansia, tapi juga pralansia (45-59 tahun) di Indonesia termasuk dalam kelompok rentan terpapar infeksi berat Covid-19.
Data 2019 persentase lansia di atas 60 tahun mencapai 9,6 persen atau sekitar 25,64 juta orang dan pra-lansia sebanyak 17,16 persen. Separuh lansia Indonesia mengalami keluhan kesehatan dan persentasenya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur lansia.
Data lain yang kurang menguntungkan sebanyak 34,1 persen penduduk Indonesia berusia lebih dari 18 tahun sudah memiliki hipertensi. Kemudian diabetes melitus pada usia lebih dari 15 tahun mencapai angka 10,9 persen. Data lain menunjukkan terdapat 1,5 persen rakyat menderita penyakit penyerta kardiovaskular, 3,7 persen dengan gangguan paru-paru kronis, kanker dengan jumlah kasus 1,8 per 1 juta penduduk, dan autoimun sebanyak 3 persen.
Usia tua dan penyakit bawaan adalah kombinasi faktor mematikan yang bisa membawa risiko terburuk infeksi Covid-19.
Dengan memperhatikan tingkat penularan dari virus Covid-19 yang sangat tinggi dan jumlah penduduk kita yang sangat besar dan disertai dengan komorbid, dapat dipastikan bahwa jika strategi Herd Imunity ini dijalankan jatuhnya korban akan semakin sulit terkendali, semoga strategi ini tidak menjadi pilihan.
SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS






