Beranda / MNewsiana / LIMA HAKIKAT KEPEMIMPINAN

LIMA HAKIKAT KEPEMIMPINAN


Oleh : Ismail, M.Pd.I (Guru Fikih MAN IC Paser)

Setiap kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, demikian Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.

Betapa pentingnya eksistensi pemimpin dalam Islam sehingga dalam perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim pun, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan. Apatah lagi memimpin rakyat yang jumlahnya ribuan, puluhan, bahkan ratusan juta seperti negeri Indonesia ini.

Terlepas dengan sistem apa yang diterapkan dalam memilih dan mengangkat pemimpin, yang pasti pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting dan sangat dibutuhkan masyarakat dalam mengatur dan mengarahkan roda kehidupan yang pada muaranya mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Sejahtera dalam arti material dan spiritual, lahir batin, dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin sejatinya memahami hakikat kepemimpinan. Dalam pandangan Islam, menurut seorang da’i, Drs. H. Ahmad Yani, secara garis besar hakikat kepemimpinan itu ada lima.

Pertama. Tanggung jawab, bukan keistimewaan. Pemimpin itu sebenarnya mengemban amanah dan tanggung jawab besar yang harus dipertanggung jawabkan, tidak hanya di hadapan manusia tapi juga di hadapan Allah swt. Karena itu, jabatan pemimpin apapun level dan tingkatanya bukanlah suatu keistimewaan, sehingga seorang pemimpin tak boleh merasa menjadi istimewa dan tidak harus diistimewakan. Dus, tak boleh marah jika orang lain tidak mengistimewakan dirinya.

Kedua. Pengorbanan, bukan fasilitas. Menjadi Pemimpin itu sejatinya bukan untuk menikmati kemewahan dan kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menggiurkan, tapi justru ia harus mau berkorban, apalagi ketika rakyat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit seperti saat ini.
Maka, sungguh ironis di tengah penderitaan rakyat masih ada pemimpin yang menganggarkan, hanya untuk pembelian pakaian saja dengan anggaran puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Ketiga. Kerja keras, bukan santai.
Para pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan hidup yang “menghantui” masyarakat saat ini. Dari kehilangan pekerjaan, menurunnya daya beli, masih mewabahnya COVID-19, sampai persoalan meningkatnya tindak kejahatan. Ditambah lagi persoalan kerusakan akidah atau keyakinan serta akhlak sebagian masyarakat.

Semua persoalan tersebut, tentu saja menuntut para pemimpin untuk bekerja lebih keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme, bukan dengan santai. Sehingga untuk selanjutnya pemimpin bisa mengarahkan kehidupan masyarakat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Keempat. Kewenangan melayani, bukan sewenang-wenang.
Ada ungkapan “Pemimpin itu pelayan rakyat.” Sejatinya ungkapan ini menjadikan pemimpin itu benar-benar melayani rakyatnya. Bukan sewenang-wenang terhadap rakyat, bukan menzalimi rakyatnya, apalagi “menjual” rakyat, berbicara atas nama rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya.
Jika ada pemimpin yang zalim dan suka memperdagangkan rakyat itulah pengkhianatan yang paling besar, demikian hadis Nabi yang diriwayatkan oleh At-Thabrani.

Dalam Hadis Nabi yang lain disebutkan bahwa manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah pemimpin yang sewenang-wenang.(H.R.Muslim)

Kelima. Keteladanan dan kepeloporan, bukan pengekor.
Seorang pemimpin hakikatnya menjadi teladan dan pelopor dalam segala bentuk kebaikan, bukan pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Ketika pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat, ia telah berkata dan berbuat jujur, ia tidak korupsi. Ketika ia menyerukan kesederhanaan, ia sudah lebih dahulu hidup sederhana dan tidak bermewah-mewah.

Demikianlah lima hakikat kepemimpinan yang sejatinya menjadikan kita menyadari betapa penting eksistensi dan kedudukan pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, jangan sampai kita salah memilih pemimpin yang pada akhirnya pemimpin itu dapat menyalahgunakan kepemimpinannya untuk misi yang tidak benar. Wallahu A’lam.

Paser, 1 Dzulhijjah 1441 H.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *