M-NEWS.ID, TANA PASER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser bersama Kantor Bank Indonesia (BI) Cabang Balikpapan, Selasa (08/05/2018), melaksanakan rapat koordinasi di ruang Sadurengas Kantor Bupati Paser.
Untuk diketahui, rakor yang dihadiri langsung Bupati Paser Yusriansyah Syarkawie beserta jajarannya serta Manajer Tim Advisori dan Pengendalian Ekonomi BI Balikpapan Nyimas Mirnayanti ini membahas upaya pencegahan terjadinya inflasi daerah. Terutama, saat menjelang hari-hari besar keagamaan, terdekat adalah Bulan Suci Ramadhan 1439 H.
Pada kesempatan itu, Bupati Yusriansyah mengatakan, dinamika kenaikan harga barang dan jasa di Paser sangat fluktuatif.
Pasalnya, lanjut Bupati Yusriansyah, barang-barang yang beredar di Kabupaten Paser pada umumnya berasal dari luar daerah. Adalah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kota Balikpapan.
“Barang-barang di Paser berasal dari Balikpapan dan Kalsel, sehingga harganya lebih mahal. Hal ini dikarenakan ada biaya transportasi,” ungkapnya.
Misalnya, sebut Bupati Yusriansyah, harga daging di Paser mencapai Rp130 ribu per kilogram. Padahal, sesungguhnya harga daging berkisar Rp80 ribu hingga Rp110 ribu di luar Paser.
Kendati demikian, Bupati Yusriansyah mengatakan, sejauh ini harga komoditas lain seperti bawang merah masih normal. Karena petani bawang di sejumlah kecamatan cukup produktif dan memasarkan hasil panennya di pasar setempat.
“Petani di beberapa kecamatan seperti Batu Engau, Komam dan Kuaro juga cukup baik. Mereka sudah mulai panen bawang dan dijual ke pasar,” ucapnya.
Diharapkan, melalui rapat dapat merumuskan perencanaan yang komprehensif dalam menangani kemungkinan terjadinya inflasi di Kabupaten Paser.
“Makanya, melalui rapat ini dirumuskan perencanaan kegiatan yang baik untuk mencegah inflasi. Kegiatan operasi pasar salah satu opsi untuk mencegah inflasi,” imbuhnya.
Sementara, Manajer Tim Advisori dan Pengendalian Ekonomi BI Balikpapan Nyimas Mirnayanti menerangkan, kegiatan yang dilakukan tim pengendalian inflasi diantaranya untuk mengumpulkan data dan informasi perkembangan harga kebutuhan pokok.
“Tim juga harus memastikan sistem logistik di daerah cukup baik dan dapat melakukan opsi aksi untuk menstabilkan harga seperti membuka bazar murah menjelang idul fitri,” katanya.
Sedangkan tujuannya, menurut ia, untuk memastikan ketersediaan barang dengan harga terjangkau dan upaya meminimalisir terjadinya spekulasi harga.
“Pemantauan berkelanjutan dilakukan untuk updating harga secara harian. Tujuannya, untuk monitoring dan evaluasi harga pasar di tingkat konsumen sebagai bentuk early warning system,” jelasnya.
Lainnya, akhir dia, operasi pasar dinilai pula dapat mencegah kelangkaan dan kenaikan harga serta mencegah terjadinya penimbunan barang. (*/dkisp)






