MNEWSKALTIM.COM, JAKARTA – Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menilai herd immunity tidak mungkin bisa diterapkan di Indonesia untuk menekan angka kasus Covid-19. Kenapa?
“Karena baru terbentuk jika minimal 60 sampai 80 persen penduduk Indonesia terinfeksi Covid-19,”
Pandu riono, Rabu (13/5/2020)
Dengan prasyarat itu, kata Pandu, akan banyak korban yang dirawat di rumah sakit dan meninggal sebagian, jika menerapkan herd immunity.
Herd immunity adalah konsep epidemiologis yang menggambarkan keadaan suatu populasi cukup kebal terhadap penyakit sehingga infeksi tidak akan menyebar dalam kelompok itu.
Herd immunity ada setelah 70 persen populasi terinfeksi dan pulih. Sehingga wabah menjadi jauh lebih sedikit lantaran kebanyakan orang resisten terhadap infeksi.
Baca Juga :
- Ketua Ombudsman RI Diciduk Kejagung, Diduga Terima Rp1,5 Miliar Terkait Kasus PNBP
- Bawaslu Paser Gencarkan Edukasi Demokrasi, Perkuat Peran Generasi Muda Mengawal Pemilu 2029
- Ratusan Bibit Anggrek dan Aglaonema Ilegal Digagalkan di Pelabuhan Trisakti, Karantina Kalsel Perketat Pengawasan
- Rakorda Kaltim di Paser: Data Bencana 2025 Jadi Alarm Keras untuk Daerah
- Bawaslu Paser Gandeng Pelajar dan Mahasiswa Kawal Pemilu 2029
Saat ini, kata Pandu, besaran persen orang Indonesia yang terinfeksi masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah populasi penduduk. “Di Wuhan saja hanya sekitar lima persen.” ungkapnya.
Hingga 9 Mei 2020, total jumlah kasus Covid-19 di Cina daratan mencapai 82.901 kasus. Sedangkan jumlah kematian sebanyak 4.633 kematian.
Menurut Pandu, masyarakat harus benar-benar disiplin jika ingin kasus Covid-19 terus menurun, yaitu dengan membiasakan pola hidup baru. “Apa itu pola hidup baru? Hidup sehat, pakai masker dan menjaga kebersihan, juga memperkuat dengan pembatasan sosial berbasis komunitas.” ucapnya.
Hingga 12 Mei, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 14.749 kasus. Dari angka itu, 3.063 pasien sembuh dan 1.007 pasien meninggal. (tem)






