Beranda / MNews Paser / Rakorda Kaltim di Paser: Data Bencana 2025 Jadi Alarm Keras untuk Daerah

Rakorda Kaltim di Paser: Data Bencana 2025 Jadi Alarm Keras untuk Daerah

MNEWSKALTIM.COM, PASER – Kabupaten Paser menjadi tuan rumah pelaksanaan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Provinsi Kalimantan Timur tahun 2026 yang melibatkan jajaran Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas).

Kegiatan ini digelar di Pendopo Lou Bepekat, Rabu (15/4/2026), dan dibuka langsung oleh Bupati Paser, dr. Fahmi Fadli dan dihadiri Forkopimda, pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltim, serta para Kepala Dinas Damkar dan Satpol PP se-Kalimantan Timur.

Rakorda tersebut mengangkat tema penguatan manajemen risiko dan ketahanan daerah dalam menghadapi ancaman kebakaran. Forum ini menjadi ajang penting untuk mempererat koordinasi antarinstansi yang berperan sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana di Kalimantan Timur.

Dalam sambutannya, Bupati Fahmi Fadli menyampaikan bahwa tingginya angka bencana di Kalimantan Timur harus menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data BPBD Kaltim, sepanjang 2025 tercatat 845 kejadian bencana yang didominasi banjir, kebakaran permukiman, dan tanah longsor dengan total kerugian mencapai Rp40,79 miliar.

“Ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperkuat manajemen risiko,” ujar Fahmi.

Ia juga mengingatkan potensi ancaman ke depan, terutama risiko kekeringan dan musim kemarau panjang pada 2026 yang dapat memicu meningkatnya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, seluruh unsur terkait diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Fahmi menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor tanpa ego sektoral. Ia meminta seluruh jajaran Damkar, Satpol PP, Satlinmas, dan BPBD untuk bekerja secara terpadu dan saling mendukung dalam menjalankan tugas di lapangan.

Selain itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi dalam upaya penanggulangan bencana, seperti penggunaan drone untuk pemantauan, sistem deteksi dini berbasis digital, serta integrasi data agar penanganan lebih cepat dan tepat sasaran.

“Perlu ditekankan juga pentingnya edukasi kepada masyarakat agar mampu melakukan pencegahan dan penanganan awal, termasuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko kebakaran akibat instalasi listrik,” kata Fahmi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *