Beranda / MNewsiana / Belajar dari Mewabahnya Virus Corona

Belajar dari Mewabahnya Virus Corona

Oleh : Restu Aulia, S.Pd.I

Berbagai pemikiran dari kalangan akademis menyikapi wabah yang mematikan ini, hampir sebulan lebih wabah corona di Indonesia meramaikan media, bahkan kebanyakan dari berbagai kalangan mencermati dalam sudut pandang yang berbeda mulai dari seorang guru, ulama, dokter, politisi dan bahkan sampai masyarakat awam. Al faqir mencoba merespon melalui tulisan yang sederhana ini dengan mengambil poin-poin penting dari referensi yang pernah dibaca.

Pada pelajaran disekolah pasti pernah mempelajari tentang hakikat Rukun Iman yang ke enam yaitu beriman kepada qada dan qadar ( beriman kepada ketetapan atau takdir Allah SWT). Tentunya kondisi pandemi Covid-19 bagian dari ketetapan Allah Swt. Seorang yang beriman harus memiliki sikap berbaik sangka ( Husnudzan ) kepada sang pencipta . Dalam intisari pada Q.S.Al-Hujuraat:12 “berbaik sangka terhadap apa saja yang dikehendaki dan ditakdirkan oleh Allah Swt.”

Implementasi perwujudannya dan sikap perilaku yang mencerminkan berbaik sangka kepada Allah Swt adalah sabar apabila ditimpa musibah atau kesulitan, tidak mudah mengeluh serta tidak putus asa, serta tabah dalam menerima kegagalan atas segala yang Allah SWT sudah takdirkan.

Kondisi mewabahnya Virus Corona ( Covid-19 ) mungkin saja Allah Swt sedang memberikan pelajaran kepada manusia bahwa betapa pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar hingga berinteraksi sosial dengan baik dan benar, pelajaran tersebut bagian rencana Allah Swt untuk umat manusia agar selalu belajar memahami kekuasaan yang diciptakanNya. Namun, Point terpenting dari salah satunya pandemi virus Covid-19 merupakan suatu ujian dari Allah Swt agar umat manusia berlomba lomba dalam kebaikkan yang bertujuan untuk melihat kadar keimanan manusia kepada pencipta-Nya.

Secara historis Nabi Muhammad SAW telah menggambarkan adab-adab yang sangat mulia kepada kita, bahkan untuk melakukan sesuatu yang dianggap sepele pun memiliki adab di dalam Islam diantaranya: adab menjaga kebersihan saat buang air kecil atau besar, berwudhu dengan benar, adab makan dan minum, adab bersikap dan lain sebagainya. Menyikapi problema kehidupan saat ini, kita seharusnya bermuhasabah (introspeksi diri) atau mengevaluasi amalan apa yang sudah kita lakukan dalam keseharian, karena dalam kehidupan ini bagaikan persinggahan yang akan berangkat menuju tujuanNya (akhirat), Surah aL-Hasyr : 18,

“Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu perbuat”

Jadi, setiap perbuatan (amalan) terpuji maupun tercela yang dilakukan akan berdampak kepada kita sendiri. Bisa saja ini sebuah teguran atau pengingat agar manusia mampu mengubah dirinya, sebagaimana Allah gambarkan pada potongan surat Ar-Ra’du ayat 11 :

“ Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri merubah keadaanya sendiri”

Mengambil hikmah dari wabah Virus Corona ini tentunya berbagai macam yang terlintas dalam pikiran penulis:

1. Yang biasanya keluyuran, sekarang harus tinggal dirumah.

2. Yang biasanya sibuk dengan kerjaan dikantor sehingga lupa dengan liburan bersama keluarga, maka sekarang lebih fleksible untuk melakukan sesuatu ataupun hoby yang bahkan biasanya hanya dilakukan setiap weekend namun sekarang bisa dilakukan saat weekday

3. Kedua orang tua dapat memberikan pendidikan kepada anaknya secara langsung.

4. Banyaknya polusi udara yang dihasilkan dari banyaknya kendaraan, sekarang lingkungan udara jadi lebih sehat karena banyak jalan yang di Lockdown.

5. Muhasabah ( mengintrosveksi diri ) terhadap segala perilaku, perkataan dan perbuatan yang mungkin selama ini dilakukan jauh dari rel atau jalan yang tetapkan jalan tersebut Dengan demikian sesunggugnya Allah melindungi tubuh kita semua dari berbagai penyakit yang tidak kita inginkan.

Selama kita mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pihak terkait dan pihak yang ahli di bidang nya, yakni banyak beruzlah (mengisolasi diri) jauh dari kerumunan ini menunjukkan bahwa satu saat kelak akan kita akan mempertanggung jawabkan semua perilaku yang pernah kita kerjakan masing-masing tanpa melibatkan pihak lain.

Sekian semoga bermakna coretan ini, bermakna khususnya buat Al-Faqir (red.Penulis) dan umumnya buat pembaca yang mampu dan mau membaca torehan-torehan kata per kata.

SETIAP ARTIKEL MNEWSIANA MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *